Oleh: Reki Fahlevi
Subuh itu datang, seperti biasa. Udara masih dingin, dan suara ayam belum sepenuhnya bersahut-sahutan.
Senin, 4 Mei 2026. Di antara jeda setelah sholat subuh, ada ruang hening yang justru terasa. Di situ sebuah keputusan dibaca kembali.
Keputusan pindah lokasi tugas. Biasanya disebut relokasi.
Itu bukan sesuatu yang asing. Sejak awal, kalimat itu sudah tertulis rapi dalam kontrak kerja. “siap ditempatkan di mana pun.”
Kalimat yang mengandung konsekuensi. Maka ketika penugasan itu benar-benar datang, ruang penerimaan harus segera ditata.
Namun, menerima tidak selalu berarti tanpa rasa.
Ingatan pelan-pelan mundur ke akhir Juli 2025. Saat pertama kali menjejakkan kaki sebagai pendamping desa di Kecamatan Balik Bukit. Masa itu menjadi ruwet, baik dari dalam maupun luar.
Relasi yang belum terbentuk, ritme kerja yang belum terbaca, hingga dinamika lapangan yang kerap tidak bisa ditebak. Setiap hari seperti berjalan di atas medan yang belum dipetakan.
Tetapi waktu bekerja dengan caranya sendiri.
Menjelang akhir 2025, satu per satu simpul mulai terurai. Pekerjaan yang semula terasa berat mulai menemukan pola. Orang-orang yang awalnya asing berubah menjadi wajah-wajah yang akrab. Dinamika yang dulu menguras energi perlahan menjadi pengalaman yang menguatkan.
Semuanya bertransformasi menjadi pemahaman.
Masuk ke tahun 2026, rasa itu berubah.
Bukan lagi sekadar bertahan, melainkan mulai menikmati. Ritme kerja terasa lebih teratur. Cara berkomunikasi dengan masyarakat semakin terasah. Bahkan, gaya khas tiap pekon mulai bisa dibaca tanpa harus banyak bertanya. Ada kenyamanan yang tumbuh pelan, seperti akar yang diam-diam menguat di dalam tanah.
Dan justru disitulah, perpindahan datang.
Awal Mei 2026. Tanpa banyak jeda. Seolah mengingatkan bahwa dalam pekerjaan seperti ini, kenyamanan bukan untuk dimiliki terlalu lama. Ia hanyalah persinggahan.
Kecamatan Belalau kini menjadi halaman berikutnya.
Ada harapan yang ikut dibawa. sederhana. menjadi lebih baik, lebih peka. Sebab setiap tempat memiliki cerita sendiri, dan setiap cerita membutuhkan cara pendekatan yang berbeda.
Namun sebelum benar-benar melangkah, ada yang perlu dituntaskan.
Ucapan terima kasih untuk balik bukit.
Sepuluh bulan bukan waktu yang panjang, tetapi cukup untuk meninggalkan jejak.
Sedampah Indah, Padang Cahya, Kubu Perahu, Gunung Sugih, Padang Dalom, Way Empulau Ulu, Sebarus, Watas, bahway hingga Sukarame. Nama-nama itu bukan lagi sekadar titik di peta. Ia sudah menjadi bagian dari ingatan.
Ada tawa di sana. Ada perdebatan. Ada lelah yang dibagi bersama. Ada juga hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele, tetapi justru paling membekas.
Perpindahan ini pada akhirnya bukan tentang meninggalkan, melainkan melanjutkan. Apa yang sudah dilalui di Balik Bukit. Ia dibawa sebagai bekal. Sebagai pengingat bahwa setiap tempat akan menghadirkan tantangan yang berbeda, tetapi juga kesempatan yang sama untuk belajar.
Subuh itu pun berlalu.
Cahaya mulai naik perlahan, menandai dimulainya hari yang baru. Dan seperti hari-hari sebelumnya, tugas tetap menunggu untuk dijalankan. Hanya lokasinya yang berubah. Semangatnya harus tetap dijaga. (*)







