SLEMAN, 7 Maret 2026 – Pemerintah Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman menggelar Musyawarah Kalurahan (Muskal) Pertanggungjawaban Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Usaha Mulia pada hari ini di Balai Kalurahan Margomulyo. Forum tersebut menjadi ruang evaluasi bersama antara pemerintah kalurahan, pengelola BUMKal, dan masyarakat terhadap kinerja usaha desa sepanjang tahun 2025.
Kegiatan ini dihadiri oleh unsur pemerintah kalurahan, Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal), tokoh masyarakat, serta pendamping desa. Hadir pula Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Dinas PMK Kabupaten Sleman, Eko Wati, SH, yang memberikan penguatan terkait tata kelola dan akuntabilitas BUMKal.
Dalam sambutannya, Eko Wati menegaskan bahwa forum Muskal pertanggungjawaban merupakan instrumen penting dalam menjaga transparansi dan keberlanjutan usaha desa.
“Musyawarah Kalurahan pertanggungjawaban ini bukan sekadar memenuhi kewajiban administrasi, tetapi merupakan wujud transparansi pengelolaan BUMKal kepada masyarakat. Forum ini menjadi ruang evaluasi bersama agar BUMKal bisa terus berkembang dan memberi manfaat nyata bagi ekonomi desa,” ujar Eko Wati.
Senada dengan hal tersebut, Lurah Margomulyo, Eko Puji Mulyono, menyampaikan bahwa keberadaan BUMKal merupakan salah satu pilar penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat desa. Ia berharap pengelolaan usaha desa dapat semakin profesional dan mampu meningkatkan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Kalurahan.
“BUMKal Usaha Mulia ini adalah milik bersama masyarakat Margomulyo. Karena itu pengelolaannya harus dijalankan secara terbuka, profesional, dan terus berinovasi agar ke depan mampu memberikan kontribusi lebih besar bagi kesejahteraan warga,” kata Eko Puji Mulyono.
Dalam forum tersebut, Direktur BUMKal Usaha Mulia, Agung Muji Hartono, memaparkan laporan pertanggungjawaban pengelolaan usaha selama periode Januari–Desember 2025. Ia menjelaskan bahwa BUMKal saat ini mengelola tiga unit usaha utama, yakni budidaya ayam petelur, budidaya jagung, serta suplai dapur MBG.
Menurutnya, unit usaha budidaya ayam petelur menjadi penyumbang keuntungan terbesar bagi BUMKal.
“Dari tiga unit usaha yang kami kelola, budidaya ayam petelur menjadi unit usaha yang paling stabil dan memberikan keuntungan cukup baik. Sementara suplai dapur MBG juga menunjukkan hasil positif, meskipun masih perlu penguatan manajemen distribusi,” jelas Agung Muji Hartono.
Ia menambahkan bahwa unit usaha budidaya jagung masih menghadapi tantangan dan memerlukan evaluasi lebih lanjut agar dapat memberikan hasil yang optimal.
Berdasarkan laporan yang disampaikan, BUMKal Usaha Mulia juga telah memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Kalurahan (PAKal) dari beberapa unit usaha yang berjalan. Meskipun jumlahnya masih terbatas, capaian tersebut menjadi langkah awal yang positif dalam pengembangan ekonomi desa.
Selain evaluasi terhadap kinerja usaha yang berjalan, dalam Muskal juga dibahas rencana pengembangan BUMKal ke depan, termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia, efisiensi operasional unit usaha, serta peluang pembentukan unit usaha baru berbasis potensi lokal.
Melalui forum Muskal ini diharapkan BUMKal Usaha Mulia dapat semakin memperkuat tata kelola usaha, meningkatkan kinerja ekonomi desa, serta memberikan manfaat nyata







