Sleman – Kalurahan Tirtomartani, Kapanewon Kalasan, Sleman, bukan desa biasa. Di sinilah salah satu cerita kuliner legendaris Yogyakarta lahir, sekaligus menjadi saksi bagaimana sebuah desa terus bergerak mengikuti zaman. Hingga tahun 2025, Tirtomartani aktif menjalankan berbagai program pembangunan desa, mulai dari pemberdayaan industri rumahan hingga inovasi pelayanan publik.
Warga Tirtomartani tak hanya kreatif, tetapi juga ulet. Beragam pelatihan keterampilan terus digelar, salah satunya pembuatan suvenir berbahan resin yang membuka peluang usaha baru. Dari tangan para ibu, lahir pula batik khas Tirtomartani melalui kelompok batik Sekartirto. Nama Sekartirto diambil dari kata sekar (bunga) dan tirto (air), dengan motif bunga teratai sebagai ciri khasnya. Sederhana, anggun, dan penuh makna Sseperti warganya.
Tak lengkap membicarakan Tirtomartani tanpa menyebut ayam goreng Kalasan. Sajian ayam goreng berbumbu rempah ini pertama kali dikenalkan oleh sosok legendaris bernama Mbok Berek. Berawal dari warung kecil di pinggir Jalan Yogya–Solo, ayam goreng racikannya perlahan dikenal luas. Meski usahanya sempat bangkrut pada era 1960-an, cita rasa itu tetap hidup dan diteruskan oleh para pegawainya. Hingga akhirnya, pada tahun 1972, merek “Mbok Berek” dipatenkan. Sejak saat itu, nama ayam goreng Kalasan melekat kuat di berbagai sudut Yogyakarta.
Pagi itu, Kantor Kalurahan Tirtomartani tampak lebih ramai dari biasanya. Rombongan monitoring dari Dinas PMK yang dipimpin Siska Wulandari, bersama TAPM Agung Margandhi, datang untuk melihat langsung perkembangan program desa. Mereka disambut jajaran pamong kalurahan serta pengurus BUMDes Mitra Tirtomartani.
Direktur BUMDes, Kuncoro, menyampaikan kabar baik. Tahun ini, BUMDes mendapat penyertaan modal sebesar Rp380 juta untuk program ketahanan pangan. Dana tersebut direncanakan untuk pengembangan budidaya ayam petelur dan ayam potong sebuah langkah yang terasa pas, mengingat Kalasan dikenal sebagai sentra ayam goreng.
Meski dana baru ditransfer pertengahan bulan ini sehingga realisasi belum berjalan penuh, persiapan sudah dimulai. BUMDes telah memiliki unit pemotongan ayam dan kini tengah menyusun analisis usaha, rencana lokasi kandang, hingga pengembangan skala usaha ke depan.
Dalam arahannya, Siska Wulandari berpesan agar pengelolaan usaha dilakukan secara serius dan sesuai aturan BUMDes. Sementara itu, Agung Margandhi menegaskan pentingnya pencatatan dan laporan keuangan yang rapi serta terdokumentasi dengan baik agar usaha desa berjalan sehat dan berkelanjutan.
Dari batik hingga ayam goreng legendaris, dari industri rumahan hingga ketahanan pangan, Tirtomartani terus menunjukkan wajah desa yang hidup dan penuh semangat. Sebuah desa yang tak hanya menjaga cerita masa lalu, tetapi juga menyiapkan langkah pasti untuk masa depan.







