Gayamharjo, Prambanan – Pagi itu, aroma khas kandang kambing menyambut rombongan tim Monitoring dan Evaluasi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) dan TAPM Kabupaten Sleman di Kalurahan Gayamharjo, Kapanewon Prambanan. Di balik kandang sederhana yang berdiri di atas lahan sewaan, denyut baru ketahanan pangan desa sedang tumbuh pelan tapi pasti.
BUMKal Kridha Kretiya Gayamharjo memilih jalan yang tak instan. Bukan usaha dagang cepat untung, melainkan peternakan kambing Savera usaha yang menuntut kesabaran, ketelatenan, dan komitmen jangka panjang. Pilihan itu kini mulai memperlihatkan hasil.
“Awalnya tentu banyak belajar. Dari perawatan indukan, pakan, sampai cara menjaga kualitas susu,” tutur Direktur BUMKal Bimo Nugroho saat memaparkan perkembangan usaha di hadapan tim Monev, Rabu (4/2/2026).
Dana Desa Program Ketahanan Pangan sebesar Rp 219,2 juta yang diterima pada akhir 2025 dimanfaatkan untuk membeli 10 ekor kambing betina lima di antaranya dalam kondisi bunting serta seekor kambing jantan. Tak lama berselang, tiga indukan melahirkan. Anak-anak kambing itu dijual saat usia masih sangat muda, menjadi pemasukan awal yang memberi suntikan semangat bagi pengelola.
Namun cerita Gayamharjo tak berhenti di sana. Dari kandang itu pula, susu kambing segar mulai mengalir ke masyarakat sekitar. Setiap ekor kambing menghasilkan sekitar dua liter susu per hari. Susu mentah itu dijual langsung ke warga dengan harga terjangkau, Rp 22 ribu per liter. Dalam waktu tak sampai dua bulan, 41 liter susu habis terjual tanpa sisa.
“Yang bikin kami senang, susunya diterima masyarakat. Artinya, ada kepercayaan yang tumbuh,” ujar salah satu pengelola dengan mata berbinar.
Untuk menjaga kualitas produksi, pakan kambing diolah dalam bentuk silase atau pakan fermentasi. BUMKal juga menggandeng PT. Semesta Farm di Cangkringan sebagai mitra teknis. Meski demikian, keterbatasan masih terasa. Freezer penyimpanan susu baru tersedia satu unit, dan pemanfaatan kotoran kambing sebagai pupuk masih dalam tahap percobaan.
Tim Monev mencatat, secara kelembagaan BUMKal Kridha Kretiya telah berdiri dengan legalitas lengkap dan struktur organisasi yang jelas. Usaha berjalan, roda ekonomi mulai berputar. Tantangan ke depan lebih pada penguatan tata kelola penyusunan SOP, perapihan administrasi dan keuangan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Kami ingin usaha ini tidak hanya jalan, tapi juga rapi dan berkelanjutan,” ungkap Direktur BUMKal di akhir sesi diskusi, seraya berharap adanya bimbingan teknis lanjutan dari pemerintah daerah.
Dari sebuah kandang di sudut Gayamharjo, BUMKal Kridha Kretiya tengah merajut cerita tentang kemandirian desa. Pelan, sederhana, namun sarat harapan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar program, melainkan ikhtiar bersama yang tumbuh dari desa, oleh desa, dan untuk desa.







