SLEMAN, YOGYAKARTA – Sore itu, Kalurahan Tirtoadi terasa lebih hening dari biasanya. Hamparan lahan pertanian yang masih basah sisa siraman air menjadi latar sahdu saat jajaran Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman melaksanakan monitoring dan evaluasi BUMKal Tirta Mas, Rabu (5/2/2026). Di tengah suasana agraris yang menenangkan itu, proses Monev berlangsung hangat, dialogis, dan jauh dari kesan kaku.
Monitoring dipimpin langsung oleh Siska Wulandari, S.Kom., M.M, didampingi tim Dinas PMK, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM), serta pendamping desa. Rombongan diterima jajaran pamong Kalurahan Tirtoadi, lengkap dengan pengurus BUMKal Tirta Mas yang selama ini menjadi motor penggerak ekonomi kalurahan berbasis pertanian dan jasa.
BUMKal Tirta Mas sendiri mengelola dua unit usaha utama, yakni kemitraan pertanian cabai dan jasa internet. Melalui program ketahanan pangan dengan penyertaan modal sebesar Rp200 juta, BUMKal menggandeng Gapoktan dan mitra tani lokal. Skema bagi hasil yang diterapkan 50 persen untuk BUMKal, 40 persen mitra, dan 10 persen Gapoktan dirancang untuk memastikan usaha tetap berkelanjutan sekaligus memberi manfaat nyata bagi petani Tirtoadi.
Yang menarik, forum Monev sore itu tak hanya berisi angka, tabel, dan laporan administrasi. Wahyudi Jaya, Direktur BUMKal Tirta Mas, tampil dengan gaya khasnya. Latar belakangnya sebagai dosen sastra membuat cara bicaranya mengalir, kadang puitis, kadang reflektif lebih mirip seniman yang sedang membaca tanda-tanda alam ketimbang pengelola badan usaha.
“Bertani itu bukan sekadar soal untung-rugi, tapi juga soal kesabaran dan membaca musim,” tutur Wahyudi dengan senyum tipis, seraya menjelaskan tantangan usaha cabai yang sempat tersendat akibat penyakit tanaman.
Dalam catatan tim monitoring, secara kelembagaan BUMKal Tirta Mas telah memiliki struktur organisasi, AD/ART, serta menjalankan rapat rutin. Namun demikian, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah, mulai dari kelengkapan administrasi, penyusunan laporan keuangan periodik, hingga percepatan penyelesaian badan hukum. Unit usaha pun didorong untuk tidak hanya bergantung pada satu komoditas, melainkan mulai mengembangkan alternatif seperti timun, kacang panjang, dan buncis.
Siska Wulandari menekankan bahwa monitoring bukan semata mencari kekurangan, melainkan memastikan BUMKal tumbuh sehat dan berdaya tahan. Dengan potensi sumber daya lokal yang kuat dan semangat kolaborasi yang sudah terbangun, BUMKal Tirta Mas dinilai memiliki modal sosial yang penting untuk berkembang lebih jauh.
Saat matahari kian condong ke barat dan bayangan padi memanjang di pematang, Monev sore itu ditutup dengan kesepahaman bersama: BUMKal Tirta Mas perlu terus dibina, dirapikan, dan diperkuat. Agar kelak, dari Tirtoadi, ekonomi kalurahan benar-benar tumbuh setenang aliran air irigasi pelan, tapi memberi kehidupan.







