SLEMAN, Selasa, 10 Februari 2026, Caturtunggal menyambut dengan ritme yang tenang. Di sela hiruk pikuk kawasan pendidikan dan permukiman padat Kapanewon Depok, sebuah ikhtiar penting sedang berlangsung: memastikan pangan tetap tumbuh dari desa, dikelola oleh warga, dan memberi manfaat nyata bagi kehidupan sehari-hari.
Hari itu, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman bersama Tim Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) melaksanakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Ketahanan Pangan yang dikelola oleh Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Aktiva Jaya Kalurahan Caturtunggal. Monev bukan sekadar agenda administratif, melainkan ruang melihat dari dekat bagaimana gagasan ketahanan pangan diterjemahkan menjadi kerja nyata di lapangan.
Langkah pertama rombongan mengarah ke Padukuhan Kledokan. Di sana, deretan kandang ayam petelur berdiri rapi. Suaranya lirih, belum riuh produksi. Enam ratus ekor ayam pullet berusia 18 minggu masih berada pada fase persiapan. Dalam waktu dekat, ayam-ayam ini akan memasuki masa produksi telur omega—fase yang ditunggu dengan penuh harap oleh para pengelola.
Unit usaha ayam petelur ini menyimpan cerita tersendiri. Ia lahir bukan tanpa dinamika. Awalnya dibangun di Padukuhan Janti, namun keberadaannya memantik keberatan sebagian warga lintas wilayah. Kekhawatiran akan dampak lingkungan mendorong dialog panjang, mediasi, hingga akhirnya keputusan diambil: kandang dipindahkan ke Kledokan. Sebuah keputusan yang tidak mudah, namun mencerminkan kebijaksanaan dan kehendak menjaga harmoni sosial.
Bangunan awal yang telah terlanjur berdiri tak dibiarkan menjadi sia-sia. Ia justru beralih fungsi, disiapkan menjadi rumah hijau hidroponik simbol bahwa dalam pembangunan desa, tak ada langkah yang benar-benar buntu, selama ada kemauan untuk beradaptasi.
Dari kandang ayam, rombongan bergeser ke Tambakbayan. Di sinilah kolam-kolam ikan nila dirawat dengan sabar. Airnya tenang, namun di balik permukaannya, seratus kilogram benih ikan tumbuh menuju target panen seribu kilogram pada Maret mendatang. Budidaya perikanan ini bukan hanya soal hasil panen, tetapi juga soal ketekunan—tentang menunggu dengan perhitungan dan merawat dengan konsistensi.
Perjalanan ditutup di Padukuhan Janti. Sebuah greenhouse hidroponik berdiri bersih dan tertata. Empat belas meja tanam berjajar rapi, masing-masing dengan lebih dari seratus lubang tanam. Selada, pakcoy, kangkung, dan kalian tumbuh pelan dalam siklus 45 hari. Sebagian telah dipanen. Hasilnya memang belum besar, namun cukup untuk menegaskan satu hal: pangan bisa tumbuh bahkan di ruang terbatas, asalkan dikelola dengan pengetahuan dan ketelatenan.
Yang menarik, seluruh unit usaha ini masih dikelola oleh TPK Aktiva Jaya. Kalurahan Caturtunggal saat ini memang belum memiliki BUMKal. Namun keterbatasan itu tak menjadi penghalang. Administrasi tercatat rapi, pengelolaan keuangan tertib, dokumen pengadaan lengkap, pajak terbayar, dan laporan pertanggungjawaban telah tersusun hingga delapan puluh persen. Sebuah kerja sunyi yang sering luput dari sorotan, namun justru menjadi fondasi penting keberlanjutan program.
Monev hari itu mencatat beberapa catatan perbaikan: perlunya papan identitas unit usaha, penguatan kelembagaan melalui AD/ART, serta peningkatan komunikasi publik sebelum pengembangan usaha. Catatan-catatan itu disampaikan bukan sebagai koreksi semata, melainkan sebagai undangan untuk naik kelas.
Februari 2026 menjadi bulan penting bagi Caturtunggal. Musyawarah Kalurahan pembentukan BUMKal ditargetkan segera terlaksana, disusul laporan pertanggungjawaban TPK dan serah terima pengelolaan. Sebuah transisi dari kerja berbasis tim sementara menuju badan usaha kalurahan yang lebih mapan dan profesional.
Di Caturtunggal, ketahanan pangan tidak dipahami sebagai proyek instan. Ia adalah proses. Tentang ayam yang belum sepenuhnya bertelur, ikan yang masih menunggu waktu panen, dan sayuran yang tumbuh setahap demi setahap. Semua bergerak dalam tempo yang sama: pelan, terukur, dan penuh kehati-hatian.
Dan justru di sanalah nilainya. Bahwa ketahanan pangan bukan sekadar angka produksi, melainkan kesanggupan desa untuk belajar, menata diri, dan terus melangkah meski perlahan menuju kemandirian







