Di antara deretan BUMDes di Daerah Istimewa Yogyakarta, BUMDes Amarta menempati posisi istimewa. Ia bukan sekadar berjalan, tetapi melaju kencang sebagai BUMDes sukses dan pionir, dengan kelembagaan yang kuat serta unit usaha yang nyata memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes).
Dari pengelolaan sampah terpadu, penggilingan padi, hingga kolam renang desa yang ramai dikunjungi, BUMDes Amarta membuktikan bahwa desa mampu mengelola usaha secara profesional. Tidak berlebihan jika BUMDes ini kerap menjadi tujuan studi tiru dari hampir seluruh penjuru Indonesia, menjadikannya ikon BUMDes unggulan di Sleman , Yogyakarta.
Pada tahun 2025, BUMDes Amarta kembali menunjukkan konsistensinya dengan menerima penyertaan modal sebesar Rp345.246.000,- yang difokuskan pada program ketahanan pangan. Dana tersebut dimanfaatkan untuk budidaya pepaya, cabai, ubi ungu, dan melon komoditas strategis yang tidak hanya berorientasi produksi, tetapi juga terhubung langsung dengan pasar.
Sebagian hasil pertanian ketahanan pangan bahkan telah memasok Dapur MBG melalui kerja sama dengan Koperasi Dapur Mataram. Sementara itu, komoditas melon menjadi daya tarik tersendiri. Dengan konsep unik “metik sendiri, nimbang sendiri, dan bayar sendiri”, kebun melon BUMDes Amarta sukses menarik perhatian masyarakat. Tak heran, dengan harga melon yang kini mencapai Rp40.000 per kilogram, unit usaha ini menjadi salah satu primadona.
Pagi itu, suasana BUMDes Amarta terasa berbeda. Monitoring dan Evaluasi BUMDes Kabupaten Sleman terjadwal dilaksanakan di lokasi ini. BUMDes yang dinahkodai Agus Setyanto, S.Sos figur yang dikenal memiliki jejaring luas hingga tingkat Kementerian Desa menyambut rombongan dengan penuh antusias. Kedekatan jejaring dan rekam jejak panjang menjadikan BUMDes Amarta kerap memperoleh berbagai dukungan pengembangan usaha.
Kedatangan Tim Monitoring dan Evaluasi yang dipimpin oleh Siska Wulandari, S.Kom., MM dari Dinas PMK Kabupaten Sleman, bersama unsur TAPM Agung Margandhi, SE., MM, disambut meriah. Hampir seluruh elemen hadir: jajaran Kapanewon, Dinas Pertanian, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Lurah, BPKal, pamong desa, KWT, kelompok tani, petani milenial, hingga pendamping desa.
Menariknya, sebelum menelaah aspek administrasi, tim monitoring terlebih dahulu diajak meninjau langsung unit-unit usaha. Seluruh unit pertanian, perkebunan, kolam renang, pengelolaan sampah, hingga penggilingan padi terintegrasi dalam satu kawasan. Konsep ini memudahkan tim untuk melihat secara nyata bagaimana roda usaha BUMDes bergerak dan saling mendukung.
Dalam sambutannya, Lurah menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran tim monitoring sebagai bentuk kontrol sekaligus pembinaan dari pemerintah. Ia juga menegaskan kebanggaannya terhadap BUMDes Amarta yang telah mengharumkan nama desa, dengan kunjungan studi tiru dari hampir seluruh pulau di Indonesia. Ke depan, pemerintah desa berkomitmen terus mengembangkan BUMDes secara maksimal sesuai potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki.
Sementara itu, Siska Wulandari berpesan agar BUMDes Amarta tetap menjaga komitmen dan amanah. Menurutnya, keberhasilan BUMDes harus terus dijaga agar tujuan utamanya menyejahterakan masyarakat desa tetap menjadi orientasi utama.
Dari unsur TAPM, Agung Margandhi menekankan pentingnya peningkatan tata kelola manajemen yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Di era digitalisasi yang bergerak cepat, BUMDes dituntut tidak hanya kuat di lapangan, tetapi juga cakap dalam pemanfaatan teknologi agar tidak tertinggal.
Monitoring dan evaluasi ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan refleksi bersama bahwa BUMDes Amarta telah menjadi bukti nyata: desa mampu mandiri, inovatif, dan berdaya saing, sekaligus menjadi inspirasi bagi BUMDes lain di Indonesia.







