Sleman – Selomartani bukan sekadar nama sebuah kalurahan di Kapanewon Kalasan. Ia adalah lanskap hidup yang memadukan keasrian desa, hamparan sawah hijau bak permadani, aliran sungai yang jernih, serta latar megah Gunung Merapi yang berdiri anggun di kejauhan. Di pagi hari, ketika matahari perlahan menanjak, aktivitas petani di sawah menjadi lukisan alam yang menenangkan sebuah potret desa Yogyakarta yang otentik, damai, dan penuh kehidupan.
Nama Selo dalam bahasa Jawa berarti batu. Dan rupanya, makna itu bukan sekadar simbol. Di sebuah lahan kas desa seluas kurang lebih satu hektare, sejarah bebatuan Merapi benar-benar hadir di bawah permukaan tanah. Lahan yang selama bertahun-tahun terbengkalai, dipenuhi semak belukar dan bebatuan besar, kini mulai menemukan takdir barunya.
Di tangan BUMDes Cahaya Selo, yang dinakhodai oleh Siswanto, hamparan “batu” itu perlahan berubah menjadi hamparan harapan. Prosesnya tak mudah. Alat berat harus diturunkan untuk menyingkirkan bebatuan raksasa yang terkubur di dalam tanah seolah membuka kembali jejak letusan Merapi di masa silam. Waktu, tenaga, dan kesabaran menjadi modal awal sebelum benih kehidupan benar-benar ditanam.
Menjelang siang, udara Selomartani tetap semilir sejuk. Tim monitoring yang sejak pagi melakukan roadshow dari satu BUMDes ke BUMDes lain akhirnya tiba di lokasi. Mereka menyaksikan langsung geliat program ketahanan pangan yang sedang dipersiapkan. Di BUMDes Cahaya Selo, proses penggarapan hampir rampung. Sebagian lahan bahkan sudah mulai ditanami.
Cabai, jagung, bawang merah komoditas strategis yang menjanjikan dipilih sebagai tanaman unggulan. Ditambah rencana penanaman buah-buahan seperti alpukat dan kelengkeng, pilihan ini bukan tanpa alasan. Harga cabai yang tengah melambung menjadi peluang nyata, sementara ketersediaan air yang melimpah dari sumber alami yang dialirkan melalui irigasi menjadi kekuatan utama Selomartani.
Hadir dalam monitoring tersebut perwakilan Dinas PMK, Siska Wulandari, bersama rombongan, serta unsur TAPM Sleman, Agung Margandhi. Kedatangan mereka disambut hangat oleh pengelola BUMDes dan pamong Kalurahan Selomartani. Di tengah hamparan tanah yang luas, dengan suara gemericik air sebagai latar, optimisme terasa begitu nyata.
Direktur BUMDes dan Kepala Unit Ketahanan Pangan tak menyembunyikan keyakinan mereka. Penyertaan modal dari Dana Desa sebesar kurang lebih Rp315.000.000, yang baru ditransfer pada awal Desember, menjadi bahan bakar awal bagi mimpi besar ini. Wajar jika pada monitoring kali ini, yang tampak baru raut optimisme dan fondasi kerja keras namun justru di situlah denyut masa depan sedang disiapkan.
Dalam arahannya, Siska Wulandari menegaskan pentingnya pengelolaan sesuai amanat regulasi. Program ketahanan pangan bukan sekadar proyek desa, melainkan bagian dari program nasional Asta Cita membangun Indonesia dari pinggiran. Ketahanan pangan yang kuat diyakini akan menjadi penopang utama penguatan sumber daya manusia.
Senada dengan itu, Agung Margandhi selaku TAPM berpesan agar pengelolaan dijalankan dengan tata kelola manajemen yang baik, keuangan yang transparan, akuntabel, profesional, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, BUMDes tidak hanya bertahan, tetapi berkelanjutan terus menumbuhkan mimpi, sekaligus menjadi sumber Pendapatan Asli Desa (PADes) bagi Selomartani.
Dari batu menjadi benih, dari lahan tidur menjadi ladang harapan. Selomartani hari ini sedang menulis kisahnya sendiri: kisah tentang desa yang bergerak, BUMDes yang berani, dan masa depan ketahanan pangan yang mulai disemai dari tanah pinggiran.







