Di Balik Jalan Terjal Wukirharjo, Ketahanan Pangan Dirawat dengan Kesabaran

- Penulis

Rabu, 4 Februari 2026 - 22:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wukirharjo, Sleman – Banyak orang mengenal Sleman sebagai wilayah datar dan perkotaan. Namun siang itu, anggapan tersebut runtuh di lereng Wukirharjo. Jalan terjal, hutan yang sunyi, serta ladang-ladang petani menyambut langkah yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Dari medan yang menguras tenaga inilah, kisah ketahanan pangan desa justru tumbuh tenang, sabar, dan penuh perhitungan.

Kalurahan Wukirharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, berada di bagian tenggara wilayah Sleman yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunungkidul. Sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Jagung, pisang Uther, serta berbagai komoditas pangan lokal menjadi denyut keseharian, sekaligus fondasi bagi upaya membangun kemandirian desa.

Perjalanan menuju lokasi unit usaha ketahanan pangan BUMKal Wukir Mandiri seolah menjadi pengantar yang jujur tentang karakter desa ini. Rombongan tim monitoring harus berjalan kaki menembus jalur menanjak yang cukup ekstrem, melewati kawasan hutan dan lahan pertanian. Nafas tersengal, peluh menetes, tawa pun pecah di sela-sela langkah sebuah kesadaran bersama bahwa Sleman menyimpan wajah lain yang jauh dari hiruk pikuk kota.

Keramahan warga menjadi penawar lelah. Para petani yang berpapasan sambil memanggul rumput pakan ternak tak lupa menyapa, senyum mereka menyertai perjalanan. Hangat, sederhana, dan bersahaja cermin kehidupan desa pegunungan yang bertumpu pada kebersamaan.

Sesampainya di lokasi, berdiri sebuah kandang kambing komunal berbentuk panggung berukuran kurang lebih 10 x 20 meter. Kambing-kambing tampak gemuk, bersih, dan sehat. Unit usaha ini dikelola secara berkelompok melalui skema kemitraan, menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan yang dirancang bertahap dan terukur.

Direktur BUMKal Wukir Mandiri Kristiyanto menjelaskan bahwa dari total penyertaan modal Rp200 juta, hingga kini baru Rp100 juta yang direalisasikan. Pilihan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Prinsip kehati-hatian menjadi pegangan utama dalam mengelola usaha yang bersumber dari dana publik.

“Kami tidak ingin gegabah. Ini uang negara yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Jika usaha ini terbukti berjalan baik, tentu akan kami kembangkan. Tetapi jika secara bisnis tidak menjanjikan, kami akan mengalihkan ke unit usaha lain yang lebih potensial,” ujarnya.

BUMKal Wukir Mandiri sendiri telah berdiri sejak tahun 2018 dan mengelola sejumlah unit usaha lain. Di antaranya pengelolaan taman parkir kawasan wisata Obelix, taman kuliner, serta unit internet desa yang kini melayani sekitar 70 pelanggan, bahkan telah menjangkau wilayah di luar Kalurahan Wukirharjo.

Kegiatan monitoring ini disambut langsung oleh Lurah Wukirharjo Turaji, S.E., Carik, serta seluruh jajaran pengurus BUMKal. Di pucuk pegunungan dengan suasana yang akrab, dialog berlangsung terbuka dan konstruktif, membahas capaian sekaligus tantangan yang dihadapi.

Perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan Kabupaten Sleman, Siska Wulandari, menyampaikan sejumlah catatan hasil peninjauan lapangan dan administrasi. Menurutnya, pengelolaan usaha desa memang menuntut kehati-hatian, perhitungan matang, serta kemampuan membaca peluang.

“Tidak semua peluang harus diambil. Yang terpenting adalah kesiapan, perhitungan risiko, dan keberlanjutan usaha,” katanya.

Sementara itu, Agung Margandhi, selaku Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM), menegaskan bahwa tata kelola keuangan menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan publik.

“Transparansi dan akuntabilitas adalah fondasi. Jika itu kuat, BUMKal akan tumbuh sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menutup kegiatan, Lurah Turaji, S.E. menyampaikan apresiasi atas monitoring dan evaluasi yang dilakukan. Ia berharap seluruh rekomendasi yang diberikan dapat menjadi bahan koreksi sekaligus pembelajaran bagi Pemerintah Kalurahan dan BUMKal Wukir Mandiri ke depan.

Di lereng Wukirharjo, di antara jalan terjal dan kandang kambing komunal, desa ini sedang merawat sesuatu yang lebih besar dari sekadar usaha: kepercayaan publik dan ikhtiar membangun kemandirian pangan dengan penuh tanggung jawab.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Berita Terkait

Susu Diperas, Dahaga Dilepas: Cerita Kambing Gayamharjo
Bukan Sekadar Wisata, Boko Makmur Menjadi Nadi Ekonomi Bokoharjo
BUMNag Lubuak Bakilek Malam Koto Kaciak: Dari Air Bersih hingga Ketahanan Pangan dan Wisata Desa
Ajib Santoso dan Ikhtiar Pelan tapi Pasti Membangun BUMDes Tirta Jaya Nogotirto
Budidaya Terong Jepang Jadi Andalan, BUMKal Balecatur Perkuat Ekonomi Desa
Menjaga Amanah, Menumbuhkan Harapan. Jejak BUMDes Sumbersari Merawat Energi Desa dan Ketahanan Pangan
BUMNag Lumbung Pintar Duo Koto, Model Ketahanan Pangan Berbasis Kemitraan Warga
Bimtek Pemeringkatan BUMKal Sleman Dorong Profesionalisme dan Kemandirian Desa
Berita ini 32 kali dibaca

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 04:45 WIB

Susu Diperas, Dahaga Dilepas: Cerita Kambing Gayamharjo

Rabu, 4 Februari 2026 - 22:36 WIB

Di Balik Jalan Terjal Wukirharjo, Ketahanan Pangan Dirawat dengan Kesabaran

Rabu, 4 Februari 2026 - 20:53 WIB

Bukan Sekadar Wisata, Boko Makmur Menjadi Nadi Ekonomi Bokoharjo

Senin, 2 Februari 2026 - 09:08 WIB

BUMNag Lubuak Bakilek Malam Koto Kaciak: Dari Air Bersih hingga Ketahanan Pangan dan Wisata Desa

Minggu, 1 Februari 2026 - 11:36 WIB

Ajib Santoso dan Ikhtiar Pelan tapi Pasti Membangun BUMDes Tirta Jaya Nogotirto

Berita Terbaru

Kabar BUMDes

Susu Diperas, Dahaga Dilepas: Cerita Kambing Gayamharjo

Kamis, 5 Feb 2026 - 04:45 WIB

Kabar BUMDes

Bukan Sekadar Wisata, Boko Makmur Menjadi Nadi Ekonomi Bokoharjo

Rabu, 4 Feb 2026 - 20:53 WIB