Suasana malam di Widodomartani, Kapanewon Kalasan, Sleman, terasa berbeda. Di tengah padatnya aktivitas warga sepanjang hari, aula kalurahan justru dipenuhi semangat belajar dan diskusi. Peningkatan Kapasitas Pengelola BUMDes Widodo Makaryo menjadi ruang bertemunya gagasan, pengalaman, dan harapan besar untuk masa depan ekonomi desa.
Panewu Ngemplak, Tri Akhmeriyadi, S.P., M.Si, dalam sambutannya menegaskan bahwa BUMDes adalah lembaga usaha yang memang dituntut untuk menghasilkan keuntungan, namun tidak boleh berjalan sendiri. Harmonisasi antara pemerintah kalurahan, pengelola BUMDes, dan masyarakat menjadi kunci utama agar roda usaha dapat berputar dengan sehat dan berkelanjutan.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara operasional dan administrasi. Menurutnya, usaha yang berjalan baik tanpa tata kelola administrasi yang rapi akan rapuh, sementara administrasi yang tertib tanpa aktivitas usaha yang nyata juga tidak akan membawa manfaat.
Senada dengan itu, Lurah Widodomartani, Heruyono, S.T., menyampaikan optimisme besar terhadap BUMDes Widodo Makaryo. Ia menegaskan bahwa BUMDes yang dikelola secara profesional akan menjadi instrumen nyata peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tahun ini, Widodo Makaryo direncanakan menambah pengelolaan unit strategis, mulai dari pasar kalurahan, lapangan, hingga food court UMKM, sebagai upaya memperluas manfaat ekonomi bagi warga.

Optimisme tersebut bukan tanpa dasar. Di bawah kepemimpinan Direktur Ari, BUMDes Widodo Makaryo menunjukkan progres positif melalui unit ketahanan pangan “Wima Farm”. Keberhasilan ini semakin menguatkan keyakinan pemerintah kalurahan untuk memberikan kepercayaan lebih besar dalam pengembangan unit-unit usaha lainnya. Latar belakang Ari sebagai pengusaha dinilai menjadi nilai tambah dalam membaca peluang dan mengelola risiko usaha desa.
Pada sesi materi, Agung Margandhi hadir sebagai narasumber pertama dengan membawakan materi tentang kelembagaan BUMDes. Materi ini menjadi fondasi penting agar seluruh peserta benar-benar memahami posisi, peran, dan tanggung jawab BUMDes sebagai badan usaha milik bersama, bukan sekadar proyek sesaat.
Materi kedua disampaikan oleh Deny Pratama, yang mengulas secara praktis tentang tata kelola keuangan BUMDes. Ia menekankan bahwa transparansi keuangan adalah jembatan utama untuk membangun kepercayaan masyarakat. Dengan mengacu pada Kepmendes Nomor 136, proses penyusunan laporan keuangan BUMDes kini semakin mudah dan terstandar, sehingga akuntabilitas dapat diwujudkan secara nyata.
Pelatihan yang dilaksanakan pada malam hari justru menghadirkan suasana yang lebih fokus. Meski para peserta telah menjalani aktivitas sejak pagi, semangat belajar tetap terjaga. Para narasumber pun “tahu diri”, menyampaikan materi secara padat, diselingi gurauan ringan agar suasana tetap segar dan peserta tak larut dalam kantuk.
Kegiatan ini diikuti oleh unsur lengkap ekosistem ekonomi desa: pengurus dan pengawas BUMDes, Gapoktan, KWT, pengelola Lumbung Mataraman, serta unsur pendukung lainnya. Menjelang akhir tahun anggaran, pesan penutup dari Ulu-ulu Widodomartani mengingatkan bahwa seluruh kegiatan harus diselesaikan tepat waktu dan dipertanggungjawabkan dengan baik.
Malam itu, Widodomartani tak hanya menutup hari dengan diskusi, tetapi juga membuka jalan panjang menuju BUMDes yang lebih kuat, profesional, dan dipercaya warganya.







