MARGODADI, SLEMAN – Siang itu, Kamis 12 Februari 2026, udara di kawasan wisata BUMKal Dadi Raharja terasa sejuk dan ramah. Hamparan hijau yang tertata rapi menyambut kedatangan Tim Monitoring dan Evaluasi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman yang dipimpin oleh Siska Wulandari, S.Kom, MM, bersama Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM).
Rombongan diterima hangat oleh segenap pamong kalurahan dan jajaran pengurus BUMKal Dadi Raharja di tengah kawasan yang dulu hanyalah lahan semak belukar tak produktif. Kini, di atas lahan seluas 6,1 hektar itu, tumbuh sebuah kawasan agrowisata yang menyatukan edukasi, rekreasi, dan semangat kewirausahaan desa.
BUMKal Dadi Raharja lahir dari denyut harapan masyarakat Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman. Ia bukan sekadar badan usaha desa, melainkan gerakan sosial yang menjahit potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi baru.
Dengan visi membangun desa mandiri dan berdaya saing melalui sektor agrowisata, pariwisata, dan UMKM, mereka mengusung konsep “Edukasi dan Rekreasi dalam Harmoni Alam.”
Di kawasan ini berdiri Gugur Gunung Camping Ground, perkebunan hortikultura, hingga ruang kolaborasi UMKM lokal. Lanskap pedesaan tetap dipertahankan, namun ditata dengan sentuhan modern yang terencana melalui masterplan yang matang.
Dalam suasana dialog yang cair namun substantif, Tim Monitoring memberikan apresiasi atas progres yang telah dicapai. Namun, ada satu pesan penting yang menjadi penekanan.
“Kawasan ini memiliki potensi luar biasa. Namun, status kepemilikan lahan dan kelengkapan perizinan harus benar-benar dipastikan. Walaupun memanfaatkan Tanah Kas Desa (TKD), semua dokumen harus lengkap agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari,” tegas Siska Wulandari.
Catatan tersebut bukan sekadar formalitas administratif, melainkan fondasi keberlanjutan. Sebab, sebuah mimpi besar memerlukan pijakan hukum yang kokoh.
Direktur BUMKal Dadi Raharja, Kir Haryono, menyampaikan optimismenya dengan penuh keyakinan.
“Ini bisnis jangka panjang. Mengelola lahan seluas ini tentu membutuhkan anggaran besar. Tapi kami percaya, dengan tata kelola yang baik dan jejaring yang luas, kawasan ini akan terus berkembang,” ungkapnya.
Ia mengisahkan bagaimana lahan yang dulu hanya semak belukar ditata perlahan menjadi area asri yang layak untuk camping ground, jambore skala besar, hingga berbagai pertemuan komunitas. Fasilitas umum pun dibangun secara bertahap sesuai perencanaan.
Optimisme itu bukan tanpa dasar. Untuk tahun 2026 saja, jadwal kawasan ini telah penuh pemesanan oleh sekolah, perguruan tinggi, komunitas, hingga organisasi. Sebuah sinyal kuat bahwa konsep wisata edukatif berbasis alam semakin diminati.
BUMKal Dadi Raharja tidak sekadar berbicara tentang wisata. Ia berbicara tentang keberlanjutan tentang menjaga alam sekaligus memberdayakan manusia di dalamnya. Kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha lokal menjadi strategi utama untuk menghadirkan pengalaman wisata yang bermakna dan berdampak sosial.
Di tengah derasnya arus modernisasi, kawasan ini justru berdiri dengan satu kaki kokoh pada tradisi gotong royong yang menjadi identitas Yogyakarta.
Di Seyegan, sebuah contoh sedang tumbuh: desa modern yang lestari, berdaya saing, dan tetap memeluk akar budayanya. Dari semak belukar menjadi ruang harapan dan dari harapan, tumbuh masa depan.







