Sleman – Umbulharjo bukan sekadar nama. Ia adalah cerita panjang tentang air yang tak pernah pelit memberi kehidupan. Kalurahan di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman ini berdiri anggun di lereng Gunung Merapi, berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Merapi, dikelilingi kesuburan tanah dan keteguhan warganya. Dahulu bernama Pentingsari, sejak 1946 resmi menjadi Umbulharjo gabungan kata umbul (mata air) dan raharjo (makmur, tentram). Nama yang hingga kini benar-benar hidup dalam denyut keseharian warganya.
Umbulharjo dikenal sebagai wilayah pertanian yang subur. Air mengalir tak hanya di sawah, tetapi juga dalam semangat warganya yang sebagian besar berprofesi sebagai petani. Meski kerap diuji erupsi Merapi dan gempa besar 2006, Umbulharjo tak pernah kehilangan harapan. Justru dari tanah yang kerap bergetar itulah, ketangguhan tumbuh dan berbuah.
Sejak 2022, BUMDes Maju Raharjo menjadi salah satu lokomotif penggerak ekonomi kalurahan. Di bawah kepemimpinan Tri Sunarto, dengan dukungan Soesy Hendarti dan Ciptaningtyas, BUMDes ini mengelola potensi pariwisata dan SPAMDes. Panorama Umbulharjo memang asoy alami, sejuk, dan memikat namun kali ini bukan wisata yang menjadi sorotan utama.
Tim monitoring dari Dinas PMK Sleman, dipimpin oleh Siska Wulandari dan didampingi TAPM Sleman Agung Margandhi, hadir langsung ke lapangan untuk memantau pelaksanaan program ketahanan pangan yang dikelola BUMDes Maju Raharjo. Monitoring dilakukan langsung di lokasi kegiatan, menyentuh tanah, menyapa pelaku, dan menyimak proses.
Ada dua kegiatan utama yang dijalankan. Pertama, budidaya jagung, sebagai tindak lanjut himbauan Bupati, dengan alokasi anggaran sebesar lima persen dari total dana ketahanan pangan. Selebihnya, BUMDes memfokuskan diri pada penggemukan kambing, sebuah pilihan yang realistis dan berbasis pengalaman.
Di sinilah cerita menarik bermula. Kandang kambing yang berdiri megah tak seperti kandang pada umumnya. Berbentuk panggung, berukuran kurang lebih 7 x 15 meter, dengan lorong berlantai keramik yang bersih. Meski aroma khas kambing tetap setia menemani, kebersihan kandang menjadi bukti keseriusan pengelolaan. Saat ini, kandang terisi 50 ekor kambing, dengan target 100 ekor yang masih dalam proses bertahap.
Pengelola unit ketahanan pangan—yang telah berpengalaman di bidang peternakan menjelaskan dengan santai namun penuh pengetahuan. Kambing, katanya, adalah hewan memamah biak. Tak cukup hanya konsentrat. Rumput dan dedaunan wajib diberikan agar mereka tetap mengunyah. “Kalau cuma konsentrat, bisa mencret,” ujarnya sambil tersenyum. Dua orang anak kandang setiap hari memastikan kebersihan terjaga dan pakan terpenuhi rutinitas sederhana yang menentukan keberhasilan besar.
Dalam kesempatan tersebut, Siska Wulandari menegaskan pentingnya pencatatan aset BUMDes yang sesuai aturan. Dengan penyertaan modal ketahanan pangan sebesar Rp 271.000.000, pengelolaan harus akuntabel dan dipertanggungjawabkan secara resmi melalui forum musyawarah kalurahan. Angka besar yang menuntut tanggung jawab bersama.
Sementara itu, Agung Margandhi menyampaikan pesan kunci: BUMDes harus dikelola dengan prinsip profesional, terbuka, partisipatif, mengutamakan sumber daya lokal, dan berkelanjutan. Jika itu dijalankan dengan konsisten, maka manfaatnya bukan hanya untuk laporan, tetapi benar-benar akan dirasakan oleh warga Umbulharjo.
Dari mata air yang makmur, dari kandang yang bersih, dari ladang jagung yang tumbuh perlahan Umbulharjo kembali membuktikan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar program, melainkan ikhtiar bersama. Di lereng Merapi yang gagah, harapan terus dirawat, dan masa depan ditumbuhkan dengan kerja nyata.
How useful was this post?
Click on a star to rate it!
Average rating 5 / 5. Vote count: 2
No votes so far! Be the first to rate this post.







