Cerita Asoy dari Umbulharjo yang Subur

- Penulis

Sabtu, 27 Desember 2025 - 09:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sleman – Umbulharjo bukan sekadar nama. Ia adalah cerita panjang tentang air yang tak pernah pelit memberi kehidupan. Kalurahan di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman ini berdiri anggun di lereng Gunung Merapi, berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Merapi, dikelilingi kesuburan tanah dan keteguhan warganya. Dahulu bernama Pentingsari, sejak 1946 resmi menjadi Umbulharjo gabungan kata umbul (mata air) dan raharjo (makmur, tentram). Nama yang hingga kini benar-benar hidup dalam denyut keseharian warganya.

Umbulharjo dikenal sebagai wilayah pertanian yang subur. Air mengalir tak hanya di sawah, tetapi juga dalam semangat warganya yang sebagian besar berprofesi sebagai petani. Meski kerap diuji erupsi Merapi dan gempa besar 2006, Umbulharjo tak pernah kehilangan harapan. Justru dari tanah yang kerap bergetar itulah, ketangguhan tumbuh dan berbuah.

Sejak 2022, BUMDes Maju Raharjo menjadi salah satu lokomotif penggerak ekonomi kalurahan. Di bawah kepemimpinan Tri Sunarto, dengan dukungan Soesy Hendarti dan Ciptaningtyas, BUMDes ini mengelola potensi pariwisata dan SPAMDes. Panorama Umbulharjo memang asoy alami, sejuk, dan memikat namun kali ini bukan wisata yang menjadi sorotan utama.

Tim monitoring dari Dinas PMK Sleman, dipimpin oleh Siska Wulandari dan didampingi TAPM Sleman Agung Margandhi, hadir langsung ke lapangan untuk memantau pelaksanaan program ketahanan pangan yang dikelola BUMDes Maju Raharjo. Monitoring dilakukan langsung di lokasi kegiatan, menyentuh tanah, menyapa pelaku, dan menyimak proses.

Ada dua kegiatan utama yang dijalankan. Pertama, budidaya jagung, sebagai tindak lanjut himbauan Bupati, dengan alokasi anggaran sebesar lima persen dari total dana ketahanan pangan. Selebihnya, BUMDes memfokuskan diri pada penggemukan kambing, sebuah pilihan yang realistis dan berbasis pengalaman.

Di sinilah cerita menarik bermula. Kandang kambing yang berdiri megah tak seperti kandang pada umumnya. Berbentuk panggung, berukuran kurang lebih 7 x 15 meter, dengan lorong berlantai keramik yang bersih. Meski aroma khas kambing tetap setia menemani, kebersihan kandang menjadi bukti keseriusan pengelolaan. Saat ini, kandang terisi 50 ekor kambing, dengan target 100 ekor yang masih dalam proses bertahap.

Pengelola unit ketahanan pangan—yang telah berpengalaman di bidang peternakan menjelaskan dengan santai namun penuh pengetahuan. Kambing, katanya, adalah hewan memamah biak. Tak cukup hanya konsentrat. Rumput dan dedaunan wajib diberikan agar mereka tetap mengunyah. “Kalau cuma konsentrat, bisa mencret,” ujarnya sambil tersenyum. Dua orang anak kandang setiap hari memastikan kebersihan terjaga dan pakan terpenuhi rutinitas sederhana yang menentukan keberhasilan besar.

Dalam kesempatan tersebut, Siska Wulandari menegaskan pentingnya pencatatan aset BUMDes yang sesuai aturan. Dengan penyertaan modal ketahanan pangan sebesar Rp 271.000.000, pengelolaan harus akuntabel dan dipertanggungjawabkan secara resmi melalui forum musyawarah kalurahan. Angka besar yang menuntut tanggung jawab bersama.

Sementara itu, Agung Margandhi menyampaikan pesan kunci: BUMDes harus dikelola dengan prinsip profesional, terbuka, partisipatif, mengutamakan sumber daya lokal, dan berkelanjutan. Jika itu dijalankan dengan konsisten, maka manfaatnya bukan hanya untuk laporan, tetapi benar-benar akan dirasakan oleh warga Umbulharjo.

Dari mata air yang makmur, dari kandang yang bersih, dari ladang jagung yang tumbuh perlahan Umbulharjo kembali membuktikan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar program, melainkan ikhtiar bersama. Di lereng Merapi yang gagah, harapan terus dirawat, dan masa depan ditumbuhkan dengan kerja nyata.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Berita Terkait

Susu Diperas, Dahaga Dilepas: Cerita Kambing Gayamharjo
Di Balik Jalan Terjal Wukirharjo, Ketahanan Pangan Dirawat dengan Kesabaran
Bukan Sekadar Wisata, Boko Makmur Menjadi Nadi Ekonomi Bokoharjo
BUMNag Lubuak Bakilek Malam Koto Kaciak: Dari Air Bersih hingga Ketahanan Pangan dan Wisata Desa
Ajib Santoso dan Ikhtiar Pelan tapi Pasti Membangun BUMDes Tirta Jaya Nogotirto
Budidaya Terong Jepang Jadi Andalan, BUMKal Balecatur Perkuat Ekonomi Desa
Menjaga Amanah, Menumbuhkan Harapan. Jejak BUMDes Sumbersari Merawat Energi Desa dan Ketahanan Pangan
BUMNag Lumbung Pintar Duo Koto, Model Ketahanan Pangan Berbasis Kemitraan Warga
Berita ini 89 kali dibaca

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 04:45 WIB

Susu Diperas, Dahaga Dilepas: Cerita Kambing Gayamharjo

Rabu, 4 Februari 2026 - 22:36 WIB

Di Balik Jalan Terjal Wukirharjo, Ketahanan Pangan Dirawat dengan Kesabaran

Rabu, 4 Februari 2026 - 20:53 WIB

Bukan Sekadar Wisata, Boko Makmur Menjadi Nadi Ekonomi Bokoharjo

Senin, 2 Februari 2026 - 09:08 WIB

BUMNag Lubuak Bakilek Malam Koto Kaciak: Dari Air Bersih hingga Ketahanan Pangan dan Wisata Desa

Minggu, 1 Februari 2026 - 11:36 WIB

Ajib Santoso dan Ikhtiar Pelan tapi Pasti Membangun BUMDes Tirta Jaya Nogotirto

Berita Terbaru

Kabar BUMDes

Susu Diperas, Dahaga Dilepas: Cerita Kambing Gayamharjo

Kamis, 5 Feb 2026 - 04:45 WIB

Kabar BUMDes

Bukan Sekadar Wisata, Boko Makmur Menjadi Nadi Ekonomi Bokoharjo

Rabu, 4 Feb 2026 - 20:53 WIB