Sindumartani, Sleman –21-01-2026, Peran perempuan dalam pembangunan desa kini tidak lagi identik dengan istilah Jawa konco wingking. Di banyak wilayah, perempuan justru tampil di garda depan sebagai penggerak ekonomi, pengambil keputusan, sekaligus nahkoda lembaga usaha desa. Salah satu contoh nyata hadir dari BUMDes Parahita Kalurahan Sindumartani, yang dipimpin oleh sosok perempuan tangguh, Nawang.
Berbekal latar belakang sebagai pengusaha yang tumbuh dalam keluarga besar pelaku usaha peternakan dan perikanan, Nawang bukan figur baru di dunia usaha. Jejak bisnis keluarganya telah lama menjadi pemasok kebutuhan protein hewani untuk pasar modern, pasar tradisional, perhotelan, restoran, hingga katering. Pengalaman panjang inilah yang menjadi pertimbangan kuat Pemerintah Kalurahan Sindumartani untuk mempercayakan kepemimpinan BUMDes Parahita kepadanya.
Kepercayaan tersebut dijawab dengan kerja nyata. Pada tahun 2025, BUMDes Parahita memperoleh penyertaan modal program ketahanan pangan sebesar Rp260.000.000,- yang diperuntukkan bagi budidaya ayam joper (jowo super). Meski kandang utama berukuran 8 x 24 meter yang berdiri di atas Tanah Kas Desa (TKD) masih dalam proses pembangunan, Nawang memilih tidak menunggu.
Dengan semangat tancap gas, ia memanfaatkan kandang-kandang milik pribadi untuk memulai usaha lebih awal, agar dana penyertaan modal tidak terlalu lama mengendap. Langkah cepat ini membuahkan hasil. Sejak penyertaan modal disalurkan pada bulan Juli, BUMDes Parahita telah berhasil panen sebanyak 3.000 ekor ayam joper, dan diproyeksikan panen kedua sekitar 5.000 ekor pada bulan berikutnya.
Dalam hal pengadaan DOC (Day Old Chick) maupun pemasaran hasil panen, BUMDes Parahita menjalin kemitraan dengan pihak ketiga, sehingga tidak mengalami kendala berarti dalam rantai produksi dan distribusi. Jaringan usaha yang telah terbangun sebelumnya menjadi modal sosial yang sangat kuat dalam mendukung kelancaran operasional BUMDes.
Pada paparan program kerja sebelumnya, kegiatan ketahanan pangan BUMDes Parahita direncanakan meliputi budidaya ayam joper dan ikan lele. Namun, dengan mempertimbangkan dinamika harga pasar dan analisis usaha, Nawang melakukan penyesuaian strategi. Ketika harga lele dinilai kurang menguntungkan, unit usaha dialihkan menjadi penyedia pakan ternak poultry.
Unit usaha pakan ternak ini tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan internal ternak yang dikelola BUMDes, tetapi juga melayani peternak-peternak di wilayah Sindumartani, yang memang dikenal sebagai sentra peternakan dan perikanan. Langkah adaptif ini dinilai lebih berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan lokal.
Dalam kegiatan monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK), Siska Wulandari bersama TAPM Kabupaten Sleman Agung Margandhi menyampaikan apresiasi atas capaian dan keberanian pengelola BUMDes Parahita dalam mengambil langkah-langkah strategis.
Monitoring tersebut diterima dengan antusias oleh jajaran pengelola BUMDes, pamong kalurahan, pendamping desa, serta Sekretaris Desa (Carik). Dalam kesempatan tersebut, Carik menyampaikan ucapan terima kasih atas pendampingan yang dilakukan dan menyatakan kesiapan Pemerintah Kalurahan serta BUMDes Parahita untuk menindaklanjuti berbagai rekomendasi yang diberikan.
Rekomendasi tersebut menekankan pentingnya penguatan tata kelola manajemen, administrasi, dan keuangan, mengingat BUMDes merupakan perusahaan publik yang pengelolaannya harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada masyarakat dalam forum musyawarah kalurahan.
Kiprah BUMDes Parahita Sindumartani menjadi bukti bahwa ketika perempuan diberi ruang, kepercayaan, dan kesempatan, mereka tidak hanya mampu memimpin, tetapi juga menghasilkan dampak nyata bagi ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi desa.







