Madurejo, Prambanan, 22 Desember 2025 — Dari sebuah musyawarah yang sarat komitmen dan harapan, Kalurahan Madurejo resmi melahirkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Ayodya Tuladha. Musyawarah Kalurahan yang digelar hari ini bukan sekadar memenuhi amanat regulasi, tetapi menjadi penanda keseriusan Madurejo menata masa depan ekonomi desa berbasis potensi lokal.
Sejumlah unit usaha sejatinya telah berjalan. Program ketahanan pangan yang sebelumnya dikelola Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) kini bertransformasi menjadi embrio BUMDes. Dengan penyertaan modal ketahanan pangan sebesar Rp320 juta, Madurejo mengambil langkah strategis agar pengelolaan usaha desa lebih terarah, profesional, dan berkelanjutan.
Lurah Madurejo dalam sambutannya menekankan pentingnya peran BUMDes sebagai instrumen kesejahteraan masyarakat dan sumber Pendapatan Asli Desa (PADes). Nama Ayodya Tuladha disepakati bersama, mengandung makna harapan agar BUMDes ini mampu menjadi teladan tidak hanya bagi warga Madurejo, tetapi juga bagi desa-desa lain.
Ketua BPKal Madurejo mengingatkan besarnya tanggung jawab para pengurus yang telah dipilih. Modal yang besar harus diimbangi dengan tata kelola yang baik serta jiwa kewirausahaan yang kuat. “BUMDes bukan sekadar lembaga administratif, tetapi rumah besar usaha desa yang harus dikelola dengan visi bisnis,” tegasnya.
Musyawarah juga menetapkan jajaran pengurus BUMDes Ayodya Tuladha, dengan Nanang sebagai Direktur, didukung Katri sebagai Sekretaris dan Eko Nurkolis sebagai Bendahara. Pengelolaan usaha dibagi dalam sejumlah divisi strategis, meliputi ketahanan pangan, pengelolaan sampah, dan wisata, serta diawasi oleh tim pengawas terpilih.
Apresiasi datang dari Dinas PMK Kabupaten Sleman. Madurejo dinilai sigap karena langsung menyiapkan langkah administratif lanjutan, mulai dari pengajuan nama BUMDes ke portal resmi hingga proses pengurusan badan hukum melalui kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan. Hal ini menjadi fondasi penting agar BUMDes dapat bergerak cepat dan legal.
Panewu Anom Kapanewon Prambanan menaruh harapan besar agar Ayodya Tuladha menjadi pelopor BUMDes di wilayah Prambanan. Menurutnya, membangun usaha desa membutuhkan kejelasan pengelolaan, konsistensi, dan kerja kolektif yang tidak singkat.
Menutup rangkaian musyawarah, Agung Margandhi memberikan pengarahan yang menegaskan satu pesan kunci: usaha desa tidak boleh berhenti. Setelah serah terima aset dari TPK, pengurus harus langsung bergerak, memahami tugas dan fungsi, memperkuat manajemen, serta menjaga tata kelola keuangan yang sehat.
Dengan memaksimalkan seluruh potensi lokal, Ayodya Tuladha diharapkan tumbuh sebagai simbol kemandirian ekonomi dari Madurejo, untuk Madurejo.







