SLEMAN, YOGYAKARTA – Langit Sumberadi, Kapanewon Mlati, siang itu menjadi saksi sebuah ikhtiar desa yang sedang bertumbuh. Di hamparan lahan ketahanan pangan, deretan pohon pepaya berdiri tegak sebagian masih hijau segar, sebagian lain menunjukkan tanda-tanda perlu sentuhan lebih serius. Di sanalah Tim Monitoring dan Evaluasi dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman menyapa langsung denyut usaha BUMKal Adi Sejahtera, Rabu (5/2/2026).
Monitoring kali ini tak sekadar menilai angka dan dokumen. Lebih dari itu, tim ingin membaca semangat, melihat proses, dan mendengar cerita di balik program ketahanan pangan yang digulirkan melalui penyertaan modal senilai Rp340 juta. Dana tersebut diwujudkan dalam dua unit usaha utama: penanaman ratusan pohon pepaya dan pengembangan breeding kambing Savera.
Ketua Tim Monitoring, Siska Wulandari, S.Kom., M.M, menyampaikan bahwa langkah yang diambil BUMKal Adi Sejahtera sejatinya sudah berada di jalur yang tepat. Namun, perjalanan menuju hasil tentu membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan penguatan tata kelola.
“Kami melihat niat baik dan potensi yang besar. Usaha sudah berjalan, tapi masih perlu sentuhan pembinaan agar hasilnya bisa maksimal dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tutur Siska Wulandari di sela peninjauan lokasi.
Di lahan pepaya, sekitar ratusan batang tanaman ditanam dengan harapan mampu menghasilkan puluhan ton panen dalam waktu kurang lebih sepuluh bulan. Namun hasil awal belum sepenuhnya sesuai target. Faktor teknis budidaya dan minimnya pendampingan ahli menjadi catatan penting yang disampaikan tim monitoring.
Sementara itu, kandang kambing Savera telah berdiri kokoh, menunggu optimalisasi pengelolaan dan pendampingan lanjutan agar ternak dapat tumbuh sehat dan produktif. Usaha ini diharapkan menjadi sumber ekonomi baru yang berkelanjutan bagi kalurahan.
Tak hanya aspek teknis, tim juga menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan. Administrasi yang masih sederhana, laporan keuangan yang belum tersusun rutin, hingga belum rampungnya legalitas badan hukum BUMKal menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera dituntaskan.
“BUMKal ini ibarat benih. Sudah ditanam, sudah disiram, tinggal bagaimana dirawat dengan cara yang benar. Jika tata kelola diperkuat dan SDM terus didampingi, kami optimistis BUMKal Adi Sejahtera bisa tumbuh menjadi penopang ekonomi kalurahan,” tambah Siska dengan nada optimis.
Meski kontribusi terhadap Pendapatan Asli Kalurahan (PADKal) belum terlihat, keberadaan unit usaha ini setidaknya telah membuka ruang belajar bersama, menyerap tenaga lokal dalam skala terbatas, dan menumbuhkan harapan akan kemandirian ekonomi desa.
Monitoring ditutup dengan sejumlah rekomendasi: perbaikan teknis budidaya pepaya dan peternakan kambing, penyusunan laporan keuangan sesuai standar, penguatan organisasi, serta pelaksanaan musyawarah pertanggungjawaban keuangan paling lambat Maret 2026.
Siang itu, Sumberadi kembali sunyi. Namun di balik lahan pepaya dan kandang kambing, tersimpan proses panjang menuju desa yang lebih berdaya pelan, bertahap, dan terus belajar.







