SLEMAN, YOGYAKARTA – Pagi di Tlogoadi selalu dimulai dengan suara air. Mengalir tenang di Sungai Nglarang dan Sungai Bedog, air itu bukan sekadar membasahi tanah ia memberi kehidupan. Tak heran jika secara harfiah Tlogoadi dimaknai sebagai sumber mata air yang baik. Di kalurahan inilah, air, tanah, dan kerja gotong royong bertemu, lalu tumbuh menjadi harapan.
Hamparan sawah masih mendominasi wajah Tlogoadi, Kapanewon Mlati, Sleman. Saat musim hujan, padi menguning serempak, seolah memberi isyarat panen yang menjanjikan. Ketika kemarau datang, palawija menggantikan peran. Labu siam, pare, cabai, terong, tomat, dan mentimun tumbuh dari tangan-tangan telaten para perempuan desa yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT).
Namun Tlogoadi hari ini tak hanya bertumpu pada sawah. Sebagai ibu kota Kapanewon Mlati, lokasinya strategis—hanya sekitar 4,5 kilometer dari pusat Kabupaten Sleman. Akses ekonomi terbuka, peluang usaha tumbuh, dan arah pembangunan semakin jelas. Di titik inilah, Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Tlaga Usaha Mandiri Tlogoadi mengambil peran penting.
Pagi itu, suasana kantor Kalurahan Tlogoadi terasa berbeda. Warga, perangkat kalurahan, hingga pengelola BUMKal tampak sibuk menyambut kedatangan tim Monitoring dan Evaluasi dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman. Dipimpin oleh Siska Wulandari, bersama Agung Margandhi dari Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM), tim datang bukan sekadar membawa daftar ceklis evaluasi, tetapi juga harapan akan perbaikan dan penguatan.
Sebelum menapaki lokasi usaha ketahanan pangan, tim terlebih dahulu diajak singgah ke kantor pemerintahan kalurahan. Di ruang itulah, Lurah Tlogoadi, Sutarja, menyambut dengan wajah hangat dan nada penuh harap.
“Kami menyambut baik kedatangan tim monitoring. Evaluasi ini penting agar BUMKal kami bisa terus belajar dan berjalan lebih baik. Harapan kami sederhana, usaha ini benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
BUMKal Tlaga Usaha Mandiri Tlogoadi saat ini mengelola program ketahanan pangan dengan pendekatan yang membumi: kemitraan dan pemberdayaan. Bukan model bisnis besar yang kaku, melainkan kerja sama yang tumbuh dari kelompok-kelompok masyarakat. KWT mengelola hortikultura, kelompok tani menggarap pertanian padi, pembibitan, hingga penyewaan traktor tanam. Di sisi lain, kolam-kolam lele mulai hidup dengan aktivitas pembibitan dan lele konsumsi, sementara sektor peternakan mengembangkan usaha penggemukan.
Di balik semua itu, ada proses belajar yang terus berjalan. Supartono, Direktur BUMKal Tlaga Usaha Mandiri Tlogoadi, tak menutupi bahwa apa yang dijalankan masih terus dievaluasi.
“Saat ini kami masih fokus pada bisnis pemberdayaan lewat kemitraan dengan kelompok. Konsep ini kami jalankan sambil terus kami nilai apakah benar-benar menguntungkan semua pihak, baik BUMKal maupun masyarakat,” ujarnya jujur.
Keterbukaan itu diperkuat oleh Ali Mustofa, Bendahara BUMKal, yang memastikan seluruh kerja sama berjalan dengan tata kelola yang tertib.
“Administrasi kami jaga betul. Mulai dari MoU, laporan, hingga dokumen pendukung lainnya. Kami ingin BUMKal ini tidak hanya berjalan, tapi juga bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.
Bagi Dinas PMK, monitoring ini adalah bagian dari tanggung jawab pembinaan. Siska Wulandari menegaskan bahwa kehadiran tim bukan untuk mencari kekurangan, melainkan untuk memastikan BUMKal tumbuh sehat dan berkelanjutan.
“BUMKal adalah instrumen penting ekonomi kalurahan. Monitoring ini bertujuan memastikan pengelolaannya sesuai aturan dan terus berkembang. Ketika BUMKal kuat, ekonomi warga ikut bergerak,” ungkapnya.
Dari sawah ke kolam lele, dari bibit padi hingga traktor tanam, Tlogoadi sedang merangkai masa depan dengan caranya sendiri. Dukungan pemerintah, kekayaan alam, dan kekuatan sosial masyarakat menjadi fondasi untuk melangkah lebih jauh menuju pertanian modern, agrowisata, dan ekonomi desa yang mandiri.
Di Tlogoadi, air bukan hanya mengalir di sungai. Ia mengalir dalam kerja sama, dalam usaha bersama, dan dalam keyakinan bahwa dari desa, kesejahteraan bisa tumbuh. Dari mata air yang baik, lahirlah cerita tentang ketahanan, kemandirian, dan harapan.







