Menjelang sore di kawasan Bokoharjo, matahari mulai condong ke barat. Cahaya keemasan menyapu relief batu candi yang berdiri anggun sejak ratusan tahun lalu. Di sela-sela keheningan sejarah itu, suara tawa wisatawan justru mengalun riang. Beberapa jeep offroad hilir mudik, membawa rombongan pengunjung yang menikmati sensasi wisata alam dan budaya padahal hari belum memasuki akhir pekan.
Di balik denyut kehidupan wisata itulah, BUMKal Boko Makmur bekerja senyap namun nyata. Badan usaha milik Kalurahan Bokoharjo, Kapanewon Prambanan, Sleman ini perlahan menjelma menjadi penggerak ekonomi desa yang bertumpu pada kekuatan lokal: warisan candi dan kreativitas warga.
Bokoharjo dianugerahi kekayaan sejarah yang tak ternilai. Kawasan Candi Boko dan Candi Banyunibo bukan sekadar situs purbakala, melainkan ruang hidup baru bagi masyarakat. Melalui pengelolaan wisata berbasis komunitas, Boko Makmur menghadirkan berbagai inovasi, salah satunya “Sunday Morning Candi Banyunibo” sebuah ruang temu antara budaya, wisata, dan ekonomi kreatif lokal.
“Yang kami kelola bukan hanya tempat, tapi pengalaman,” ujar Muhamad Efendi, Direktur BUMKal Boko Makmur, saat menerima tim monitoring dari Dinas PMK dan TAPM Kabupaten Sleman. Dengan nada tenang, ia memaparkan bagaimana wisata menjadi pintu masuk kemandirian ekonomi desa.
Kunjungan tim monitoring hari itu bukan sekadar agenda formal. Disambut Pamong Kalurahan, pengurus BUMKal, dan para manajer unit usaha, rombongan melakukan kroscek administrasi sekaligus meninjau langsung unit-unit usaha yang dijalankan. Dari sektor wisata hingga unit ketahanan pangan, semuanya menjadi bagian dari ekosistem usaha desa yang terus bertumbuh.
Pada tahun 2025, unit ketahanan pangan Boko Makmur memperoleh tambahan penyertaan modal sebesar Rp 260 juta. Dana tersebut dimanfaatkan untuk budidaya penggemukan kambing, persewaan traktor, serta kemitraan pertanian dengan petani milenial berbasis bagi hasil. Sebuah upaya menghubungkan tradisi bertani dengan semangat generasi baru.
Efendi tak menutup mata terhadap kekurangan. Dengan sikap terbuka, ia menyampaikan permohonan maaf karena laporan unit ketahanan pangan belum sepenuhnya siap dipresentasikan.
“Ini menjadi catatan bagi kami. Insyaallah, pada Laporan Pertanggungjawaban BUMKal 2025 akhir Februari nanti, semua akan kami sajikan secara lengkap dan transparan,” ujarnya.
Meski begitu, capaian yang telah diraih cukup membanggakan. Hingga tahun ini, Boko Makmur mampu menyumbang sekitar Rp 75 juta PADes, yang berasal dari 30 persen laba bersih sesuai Anggaran Dasar BUMKal dan itu belum termasuk kontribusi unit ketahanan pangan.
Bagi tim monitoring, capaian tersebut perlu ditopang dengan tata kelola yang semakin kuat. Siska Wulandari dari Dinas PMK menegaskan bahwa administrasi bukan sekadar dokumen, melainkan wujud akuntabilitas kepada publik.
“Manajemen administrasi yang tertib adalah fondasi kepercayaan. Dari situlah keberlanjutan BUMKal dibangun,” tuturnya.
Apresiasi juga datang dari Pamong Kalurahan Bokoharjo. Ulu-ulu yang turut mendampingi kegiatan monitoring menyampaikan terima kasih atas evaluasi yang diberikan. Baginya, masukan dari Dinas PMK adalah cermin untuk terus berbenah.
“Ini bukan sekadar penilaian, tapi pembelajaran bagi kami agar BUMKal Boko Makmur semakin kuat dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” ujarnya.
Sore kian merambat. Wisatawan masih berdatangan, tawa masih terdengar, dan roda ekonomi desa terus berputar. Di antara batu-batu candi yang bisu oleh waktu, BUMKal Boko Makmur menuliskan kisah baru: tentang desa yang bangkit, tentang sejarah yang menghidupi masa kini, dan tentang harapan yang tumbuh dari tanah Bokoharjo.







