Hujan turun deras siang itu, membasahi jalan-jalan kecil di tengah pemukiman Kalurahan Nogotirto. Rombongan Tim Monitoring dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) bersama Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Sleman harus beberapa kali memutar arah. Petunjuk Google Maps yang dibagikan tak serta-merta membawa mereka tepat ke lokasi tujuan.
Di balik gang-gang sempit itulah, sebuah lahan pertanian terbentang. Pepaya muda tumbuh rapi, menandai awal dari unit ketahanan pangan BUMDes Tirta Jaya Nogotirto. Di lokasi sederhana itu, Ajib Santoso, SH berdiri menyambut rombongan dengan senyum tenang sebuah potret kepemimpinan yang memilih berjalan pelan, namun penuh perhitungan.
Ajib bukan orang baru di dunia usaha. Latar belakangnya sebagai pengusaha membuatnya terbiasa membaca peluang dan risiko. Namun ketika dipercaya Pemerintah Kalurahan Nogotirto untuk menahkodai BUMDes Tirta Jaya menggantikan direktur sebelumnya yang purna tugas, ia sadar satu hal: ini bukan sekadar bisnis.
“Mengelola BUMDes itu berbeda. Ini bukan uang pribadi, tapi uang negara. Setiap rupiah harus bisa dipertanggungjawabkan kepada publik,” ujar Ajib.
Sejak awal menjabat, ia tak tergesa-gesa melakukan ekspansi. Unit usaha yang sudah berjalan pasar, perdagangan, hingga event organizer tetap dijalankan, sembari ia fokus membenahi fondasi. Manajemen ditata ulang, administrasi dirapikan, dan sistem keuangan dibangun agar selaras dengan aturan.
Langkah menarik lainnya adalah pilihannya menggandeng sekretaris dan bendahara yang masih fresh graduate. Di tengah keraguan sebagian pihak, Ajib justru melihat potensi besar.
“Mereka memang masih muda dan idealis. Tapi justru itu kelebihannya. Kita bisa membangun sistem yang bersih dan tertib dari awal,” katanya.
Tahun 2025 menjadi momentum penting. BUMDes Tirta Jaya menerima penyertaan modal sebesar Rp339.069.500 untuk pengembangan unit ketahanan pangan, khususnya budidaya ayam petelur. Saat ini, kandang ayam masih dalam tahap pembangunan. Selain itu, BUMDes juga menjalin kemitraan dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) untuk budidaya sayuran dengan sistem bagi hasil.
Ajib tak ingin gegabah. Semua langkah didahului analisis, perhitungan risiko, dan proyeksi manfaat jangka panjang.
“Unit ketahanan pangan ini sensitif. Kalau salah langkah, bukan hanya rugi secara usaha, tapi juga secara kepercayaan publik,” tegasnya.
Hujan yang tak kunjung reda tak menyurutkan semangat monitoring hari itu. Tim bersama pengurus BUMDes, perwakilan KWT, serta unsur pamong kalurahan Carik dan Ulu-ulu menyusuri seluruh unit usaha yang dijalankan. Dari kebun pepaya, lokasi kemitraan sayuran, hingga rencana kandang ayam petelur, semuanya ditinjau langsung.
Usai peninjauan lapangan, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan dokumen administrasi dan keuangan. Bagi Ajib, momen ini bukan sekadar evaluasi, melainkan bagian dari proses belajar.
“Monitoring seperti ini penting. Dari sini kami tahu apa yang sudah benar dan apa yang harus segera dibenahi,” ujarnya.
Secara geografis, Nogotirto berada di jalur strategis Ringroad Barat, jalur arteri primer yang menghubungkan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Posisi ini menjadikan Nogotirto sebagai kawasan penyangga kota yang berkembang pesat, dengan aksesibilitas tinggi dan potensi ekonomi yang besar.
Potensi itulah yang ingin diolah Ajib melalui BUMDes bukan dengan langkah besar yang terburu-buru, tetapi melalui konsistensi dan tata kelola yang sehat.
“Saya tidak ingin BUMDes terlihat besar di luar, tapi rapuh di dalam. Lebih baik tumbuh perlahan, tapi kuat dan berkelanjutan,” katanya.
Di tengah hujan dan lumpur, di lahan yang bahkan sulit ditemukan lewat peta digital, BUMDes Tirta Jaya Nogotirto sedang menanam sesuatu yang lebih penting dari sekadar pepaya atau ayam petelur: kepercayaan.
Dan bagi Ajib Santoso, itulah modal utama.
“Target kami sederhana. BUMDes harus sehat secara administrasi, jalan secara usaha, dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkasnya.







