Pagi itu, embun masih menggantung di hamparan lahan pertanian Balecatur. Tanah yang baru selesai diolah membentang luas, menunggu bibit-bibit kecil yang sebentar lagi akan ditanam. Di sinilah harapan itu disemai harapan tentang ketahanan pangan, kemandirian ekonomi, dan masa depan warga Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman.
Kalurahan Balecatur yang dipimpin Andri Septiyanto, S.H. dikenal sebagai wilayah dengan bentang alam yang kontras namun saling melengkapi. Di bagian utara, tanah pertanian subur menjadi tumpuan hidup warga, sementara di selatan, perbukitan padas menjadi saksi ketekunan masyarakat menjaga alam. “Desa ini hidup dari kebersamaan. Pemerintah kalurahan hanya menjadi penggerak, sedangkan masyarakatlah yang menjadi kekuatannya,” ujar Andri dengan nada tenang.
Ikhtiar membangun desa tak hanya diwujudkan lewat tata kelola pemerintahan berbasis e-government dan kerukunan sosial, tetapi juga melalui penguatan ekonomi desa. Salah satunya dengan mengoptimalkan potensi wisata Desa Wisata Daya Gamol, yang menawarkan pengalaman edukatif mulai dari peternakan kambing Peranakan Etawa, rumah edukasi sampah, hingga rumah budidaya jamur dan kekayaan flora lokal.
Di balik geliat itu, BUMKal Maju Mapan menjadi motor penggerak ekonomi. Pada 2025, BUMKal yang dinakhodai Sakiyo Indrianto mendapat amanah besar berupa penyertaan modal Rp 456.425.000. “Ini bukan sekadar angka. Ini adalah kepercayaan masyarakat yang harus kami jaga,” tutur Sakiyo. Dari jumlah tersebut, sebagian besar dialokasikan untuk program ketahanan pangan, sementara sisanya digunakan untuk pengembangan unit usaha isi ulang air minum dan AMDK yang kini tengah dibangun infrastrukturnya.
Pilihan pada Terong Jepang (Nasubi) sebagai komoditas unggulan bukan tanpa pertimbangan. Melalui kerja sama dengan CV Swan Farm, BUMKal mendapatkan pendampingan dari hulu hingga hilir. Di lahan seluas 4,2 hektare, terong Jepang dipersiapkan menjadi sumber penghidupan baru.
Terong Jepang dikenal bernilai ekonomi tinggi dan ramah dibudidayakan di Indonesia. Kulitnya ungu mengilap, dagingnya padat, rasanya manis gurih, dan kaya serat serta antioksidan. Lebih dari itu, tanaman ini menawarkan harapan cepat panen. Dalam waktu 35–40 hari, hasilnya sudah bisa dipetik. “Dalam hitungan kami, sampai panen ke-8 sudah bisa mencapai BEP. Ini peluang yang sangat realistis,” kata Sakiyo penuh optimisme.
Optimisme itu diamini oleh Lurah Balecatur. Menurutnya, ketahanan pangan bukan hanya soal menanam dan memanen, tetapi tentang keberanian desa mengambil langkah strategis. “Kalau desa tidak berani mengelola potensi sendiri, maka kita akan selalu tertinggal. BUMKal harus menjadi alat perjuangan ekonomi warga,” tegas Andri.
Pagi itu, tim monitoring dan evaluasi menyusuri lahan pertanian, memastikan setiap rencana benar-benar berpijak di tanah yang nyata. Mereka juga meninjau SPAMDes dan lokasi pengelolaan AMDK, menyimak penjelasan pengurus BUMKal dengan saksama. Bagi Balecatur, kunjungan ini bukan sekadar agenda, melainkan pengingat bahwa setiap jengkal tanah, setiap tetes air, dan setiap usaha desa adalah bagian dari cita-cita bersama.
Dari Balecatur, cerita tentang desa berdaya itu terus tumbuh seperti terong Jepang yang sebentar lagi akan berbuah. Bukan hanya panen yang ditunggu, tetapi masa depan yang perlahan mulai terwujud.







