Sleman, Yogyakarta – Mengelola bisnis tidak pernah sesederhana membalikkan telapak tangan. Di balik setiap usaha yang bertahan dan tumbuh, selalu ada cerita tentang keterampilan, ketekunan, dan totalitas. Yang paling menentukan, tentu saja manusia di baliknya. Sumber daya manusia adalah jantung bisnis tanpanya, rencana tinggal wacana.
Kenyataan inilah yang sering dialami banyak Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Tak sedikit yang harus berkali-kali berganti pengurus, tersandung oleh kegagalan demi kegagalan. Penyebabnya beragam: politik lokal yang terlalu dominan, minimnya sinergi antar-stakeholder, kepercayaan yang belum utuh dari pemerintah kalurahan, hingga keterbatasan modal dan tata kelola yang belum rapi.
Cerita serupa pernah singgah di BUMDes Tirtomulyo, Kalurahan Tegaltirto, Kapanewon Berbah, Sleman. Berdiri sejak 2021, BUMDes ini sempat menaruh harapan besar pada usaha gantangan burung. Analisis bisnisnya menjanjikan. Tegaltirto memang punya modal alam yang kuat—lingkungan asri, aktivitas peternakan yang hidup, hamparan sawah, dan air yang jernih. Potensi desa wisata berbasis ekowisata, peternakan, hingga kerajinan seolah tinggal menunggu waktu.
Namun bisnis tidak selalu ramah pada harapan. Perjalanan BUMDes Tirtomulyo berjalan jauh dari ekspektasi. Persoalan internal datang bertubi-tubi, energi terkuras, dan hingga akhir 2025, Laporan Pertanggungjawaban pun belum bisa disajikan. Situasi ini membuat pemerintah kalurahan harus berhenti sejenak, menengok ke belakang, lalu mengambil keputusan penting: revitalisasi pengurus.
Keputusan itu kian mendesak ketika pada tahun 2025 BUMDes mendapat amanah mengelola program ketahanan pangan dengan penyertaan modal sebesar 20 persen dari pagu Dana Desa. Dengan kondisi internal yang belum solid, program strategis ini berisiko tersendat jika tidak segera dibenahi.
Lewat Musyawarah Kalurahan, tongkat kepemimpinan BUMDes Tirtomulyo akhirnya dipercayakan kepada Rubertus Bramono. Sosok pebisnis milenial ini bukan wajah baru di dunia usaha. Pengalamannya mengelola integrated farming yang telah terbukti berjalan menjadi alasan utama kepercayaan itu diberikan. Bersamaan dengan itu, modal sebesar Rp 282.552.600,- digelontorkan sebagai bahan bakar awal kebangkitan.
Di hadapan tim monitoring, Bramono berbicara dengan nada optimistis bahkan berapi-api. Targetnya jelas: usaha yang dijalankan bisa mencapai titik impas (BEP) dalam dua tahun. Bukan sekadar mimpi, katanya, tapi keyakinan yang lahir dari pengalaman nyata mengelola usaha sebelumnya.
Tim Monitoring dari Dinas PMK Sleman yang dipimpin Siska Wulandari, didampingi Agung Margandhi dari unsur TAPM, kemudian turun langsung ke lokasi. Aktivitas usaha memang belum tampak. Yang terlihat baru sebuah gudang besar yang lama tak digunakan. Namun di sanalah rencana besar disusun.
Gudang itu kelak akan disulap menjadi pusat integrated farming bertingkat: lapisan bawah berupa kolam perikanan permanen, di atasnya peternakan ayam petelur omega, dan di puncaknya pertanian hidroponik untuk sayuran dan buah. Sebuah konsep terpadu yang mencoba memadukan efisiensi, keberlanjutan, dan potensi lokal Tegaltirto.
Monitoring berlanjut ke ruang administrasi. Dokumen yang tersaji memang belum banyak masa transisi pasca-revitalisasi menyisakan kekosongan arsip dari pengurus lama. Dari sinilah catatan-catatan penting lahir. Bukan untuk menyalahkan, tetapi sebagai rambu agar perjalanan baru ini tak kembali tersesat.
Sejumlah rekomendasi pun disampaikan. Harapannya sederhana namun mendasar: BUMDes Tirtomulyo berjalan di rel yang benar, taat aturan, profesional, dan belajar dari masa lalu. Pengalaman pahit dijadikan cambuk, bukan beban.
Kini, BUMDes Tirtomulyo tengah membuka lembaran baru. Dengan nahkoda baru, konsep usaha yang lebih terukur, serta dukungan pemerintah kalurahan dan para pendamping, harapan itu kembali dirajut. Karena pada akhirnya, keberhasilan BUMDes bukan sekadar soal laba, tetapi tentang manfaat nyata tentang bagaimana usaha desa bisa tumbuh bersama warganya, dan memberi arti bagi Tegaltirto hari ini dan esok hari.







