Pagi itu, sebuah bangunan di tepi jalan raya yang hiruk pikuk tampak mencuri perhatian. Warna mencolok dengan branding kuat terpampang jelas, seolah menantang lalu lintas yang tak pernah sepi. Motor dan mobil tertata rapi di depan, hingga halaman parkir nyaris tak lagi mampu menampung kendaraan tamu yang terus berdatangan. Di depan pintu, deretan senyum para pengurus BUMDes menyambut hangat rombongan dari Dinas PMK dan TAPM yang sejak pagi telah menunggu sesuai jadwal monitoring yang sebelumnya disampaikan.
Inilah kantor sekaligus pusat usaha BUMDes 5758, atau yang lebih dikenal dengan nama Maju Mapan sebuah nama unik yang bukan dirangkai dari huruf, melainkan angka penuh makna. Branding besar di papan nama seolah menegaskan identitas: serius, modern, dan percaya diri.
Di ruang tamu, kursi-kursi tersusun rapi. Semua tampak siap. Dari dokumen transfer penyertaan modal, analisa usaha, laporan keuangan, hingga dokumentasi lapangan tak satu pun luput dari persiapan. Monitoring kali ini memang berfokus pada program nasional ketahanan pangan, dengan penyertaan modal 20 persen dari Dana Desa yang dikelola oleh BUMDes.
Wawan Purwanto, Direktur BUMDes 5758, membuka sambutan dengan penuh percaya diri. Ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran tim monitoring, seraya menuturkan perjalanan panjang BUMDes yang telah berdiri sejak 2014. Sebelas tahun bukan waktu singkat, dan jejak itu kini menjelma bukti.
Di bawah kepemimpinannya, BUMDes 5758 telah “stay” dengan beragam unit usaha: jasa keuangan, pengelolaan dan pengolahan sampah, distributor AMDK, hingga jaringan internet desa. Total 27 karyawan kini bekerja penuh waktu, digaji sesuai UMK. Sebuah capaian yang tak hanya menyehatkan BUMDes, tetapi juga menghentikan niat urbanisasi warga Tamanmartani karena di desa sendiri, lapangan kerja yang menjanjikan telah tersedia.
Namun hari itu, sorotan utama tertuju pada ketahanan pangan. Setiap pertanyaan dari tim monitoring dijawab Wawan dengan lancar dan lugas. Implementasi ketapang bukan sekadar wacana, tetapi nyata di lapangan. Fokus BUMDes Maju Mapan kali ini adalah produksi benih padi unggulan, dengan pemasaran yang telah menjalin kerja sama bersama KDMP.
Tak hanya administrasi, rombongan juga diajak melihat langsung proses produksi yang terbagi di tiga lokasi.
Lokasi pertama adalah hamparan sawah khusus pembenihan. Padi-padi unggulan tampak menguning sempurna, siap panen—sebuah pemandangan yang menenangkan sekaligus menjanjikan.
Lokasi kedua justru memancing rasa penasaran. Tempat penjemuran benih tertutup material transparan. “Kok jemurnya di dalam?” gumam beberapa anggota tim monitoring. Namun begitu masuk, suasana berubah menjadi tawa lepas. Ruangan itu panas menyerupai sauna efektif, modern, dan jauh dari cara konvensional. Monitoring yang dipimpin Siska Wulandari dari Dinas PMK dan Agung Margandhi dari TAPM pun berlangsung dalam suasana cair dan penuh canda.
Perjalanan berlanjut ke lokasi ketiga, sebuah gudang pengemasan yang jaraknya cukup jauh dari lokasi sebelumnya. Di sinilah benih padi dikemas secara profesional dengan mesin open dan mesin packaging menandai keseriusan BUMDes dalam menjaga mutu hingga ke tangan konsumen.
Pagi itu, monitoring bukan sekadar agenda rutin. Ia menjelma cerita tentang desa yang bergerak, BUMDes yang matang, dan ketahanan pangan yang benar-benar tumbuh dari akar rumput. 5758 Maju Mapan bukan hanya angka, melainkan simbol bahwa desa, jika dikelola dengan visi dan keberanian, mampu melangkah jauh bahkan dari tepi jalan raya yang hiruk pikuk menuju masa depan yang mapan







