SLEMAN, YOGYAKARTA – Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Rejo Manunggal Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman terus menunjukkan langkah awal pembangunan ekonomi desa melalui penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Tahun Buku 2025 dalam forum musyawarah kalurahan. Kegiatan ini menjadi momentum evaluasi sekaligus penguatan komitmen bersama dalam mengembangkan usaha ekonomi produktif berbasis potensi lokal.
Dalam forum tersebut, berbagai pihak hadir memberikan arahan dan evaluasi, termasuk Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK), Pemerintah Kapanewon Godean, serta jajaran pemerintah kalurahan dan pengurus BUMKal.
Direktur BUMKal Rejo Manunggal Sidorejo, Heri Prihatmoko, dalam paparannya menjelaskan bahwa tahun 2025 merupakan fase awal pembentukan dan pembangunan fondasi usaha. Fokus utama BUMKal diarahkan pada pengembangan program ketahanan pangan melalui peternakan ayam petelur.
“Pada tahun pertama ini kami masih berada pada tahap pembangunan sarana dasar, mulai dari penyiapan lahan, pembangunan kandang, gudang, hingga instalasi pendukung operasional. Karena usaha belum berjalan penuh, maka hingga akhir 2025 BUMKal belum menghasilkan pendapatan, namun seluruh proses pembangunan sudah berjalan sesuai rencana,” jelas Heri.
Ia menambahkan, penyertaan modal desa sebesar Rp 246,5 juta dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur usaha sekaligus persiapan operasional peternakan. Tahun 2026 menjadi fase penting untuk mulai produksi dan meningkatkan kapasitas manajemen usaha.
Sementara itu, perwakilan Dinas PMK Kabupaten Sleman, Siska Wulandari, S.Kom., MM, menegaskan bahwa forum pertanggungjawaban bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bagian dari proses pembelajaran kelembagaan ekonomi desa.
“LPJ ini adalah bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan BUMKal kepada masyarakat. Yang terpenting bukan hanya hasil keuntungan, tetapi bagaimana tata kelola dibangun dengan baik sejak awal agar usaha desa dapat tumbuh sehat dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Ia juga mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia pengelola, terutama melalui pelatihan manajemen usaha dan teknis peternakan agar BUMKal mampu berkembang secara profesional.
Hal senada disampaikan Panewu Kapanewon Godean, Edi Wibowo, S.STP., M.Eng, yang menilai keberanian Kalurahan Sidorejo memulai usaha produktif patut diapresiasi sebagai langkah strategis membangun ekonomi lokal.
“BUMKal harus menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. Proses awal memang penuh tantangan, tetapi yang paling penting adalah konsistensi pengelolaan, penguatan manajemen, serta sinergi antara pemerintah kalurahan, kapanewon, dan masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan laporan manajemen, sejumlah tantangan masih dihadapi, antara lain keterbatasan pengalaman pengelola di bidang peternakan serta kebutuhan tenaga operasional harian. Untuk itu, strategi tahun 2026 difokuskan pada pelatihan teknis, perekrutan tenaga operasional, serta penambahan populasi ayam petelur guna mempercepat produksi.
BUMKal Rejo Manunggal sendiri didirikan dengan tujuan meningkatkan perekonomian kalurahan, membuka lapangan kerja, serta mengoptimalkan aset desa agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Usaha peternakan ayam petelur dipilih karena memiliki peluang pasar yang masih terbuka dan prospek keberlanjutan yang dinilai menjanjikan.
Dengan dimulainya operasional produksi pada tahun 2026, pemerintah kalurahan berharap BUMKal Rejo Manunggal dapat menjadi salah satu pilar penguatan ekonomi desa sekaligus model pengembangan usaha berbasis potensi lokal di wilayah Kapanewon Godean.







