Bimomartani, Sleman – 21 Januari 2026, BUMDes Bima Makmur Kalurahan Bimomartani terus menunjukkan kiprah nyatanya dalam mewujudkan visi besar sebagai lumbung pangan, kalurahan maju, dan mandiri secara ekonomi. Menariknya, seluruh pengurus BUMDes ini adalah perempuan, dengan Novi Susilowati sebagai direktur, yang tampil penuh semangat dan percaya diri membuktikan bahwa perempuan mampu menjadi motor penggerak ekonomi desa.
Dengan tekad yang kuat dan semangat pantang menyerah, BUMDes Bima Makmur mengusung misi strategis, mulai dari menjadikan padukuhan sebagai kantong-kantong lumbung pangan, optimalisasi potensi ekonomi lokal, penciptaan usaha skala mikro dan kecil, hingga pemberdayaan sumber daya manusia usia produktif. Tak hanya itu, penguatan jejaring kemitraan usaha, manajemen risiko, serta kemandirian permodalan menjadi pijakan utama dalam pengembangan unit usaha.
Pada tahun ini, BUMDes Bima Makmur memperoleh penyertaan modal program ketahanan pangan sebesar Rp243.933.800,- serta penyertaan modal reguler senilai Rp25.000.000,-. Dana tersebut dikelola secara kolaboratif melalui berbagai kemitraan strategis, di antaranya dengan “Sumber Hasil Bumi”, perusahaan penggilingan padi dengan konsep bagi hasil, kemitraan budidaya domba bersama kelompok peternak, budidaya ikan nila bersama Cahaya Mina, serta budidaya lele yang dikelola secara mandiri oleh BUMDes.
Berdasarkan analisis usaha yang dipaparkan, seluruh unit usaha tersebut diproyeksikan mencapai Break Even Point (BEP) dalam kurun waktu 4 hingga 5 tahun, sebuah target yang realistis dan terukur untuk usaha berbasis pangan dan peternakan.
Dalam rangka monitoring dan evaluasi, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Sleman yang dipimpin oleh Siska Wulandari, bersama Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Agung Margandhi, melakukan peninjauan langsung ke BUMDes Bima Makmur. Kunjungan tersebut disambut lengkap oleh jajaran pengurus BUMDes, BPKal, pamong kalurahan, serta pendamping desa.
Siska Wulandari dalam keterangannya menyampaikan apresiasi atas semangat dan keberanian pengelola BUMDes yang seluruhnya perempuan.
“BUMDes Bima Makmur ini menjadi contoh bahwa perempuan desa memiliki kapasitas, visi, dan daya juang yang luar biasa. Potensi usahanya sudah tepat, tinggal diperkuat pada aspek tata kelola agar semakin sehat dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa pembenahan administrasi bukan sekadar kewajiban, melainkan fondasi penting untuk keberlangsungan usaha.
“Perjanjian kerja sama dengan pihak ketiga harus tertulis dan jelas, laporan keuangan perlu tersaji dalam sistem akuntansi yang rapi, serta SOP dan administrasi kantor harus berjalan konsisten,” tambahnya.
Senada dengan itu, Agung Margandhi menegaskan bahwa arah pengembangan BUMDes Bima Makmur sudah berada di jalur yang benar.
“Secara konsep usaha, Bima Makmur sudah sangat relevan dengan agenda ketahanan pangan. Tinggal bagaimana penguatan manajemen, pencatatan administrasi, dan mitigasi risiko dilakukan secara disiplin,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa hasil monitoring bukan untuk mencari kesalahan, melainkan sebagai ruang pembelajaran bersama.
“Catatan yang ada justru menjadi modal penting agar BUMDes ini naik kelas, lebih profesional, akuntabel, dan dipercaya masyarakat,” ujarnya.
Dengan semangat kebersamaan dan komitmen untuk terus berbenah, BUMDes Bima Makmur optimistis dapat tumbuh menjadi pilar ekonomi kalurahan yang tangguh. Perempuan-perempuan Bimomartani kini tidak hanya menjaga rumah tangga, tetapi juga menjadi garda depan pembangunan ekonomi desa.







