Di Antara Bau Kandang dan Harapan: Kisah BUMDes Sukma Sukoharjo Menata Masa Depan Desa

- Penulis

Rabu, 21 Januari 2026 - 05:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bau khas peternakan ayam langsung menyergap begitu rombongan melangkah ke area kandang. Deretan kandang panggung beton berdiri kokoh, berjajar rapi di Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman. Di sela-selanya, beberapa anak buah kandang (ABK) tampak sibuk menjalankan rutinitas: menakar pakan, menuangkannya ke tempat makan, dan memastikan ayam-ayam petelur dalam kondisi sehat.

Di tempat inilah BUMDes Sukma Sukoharjo menaruh harapan besarnya.

“Ini bukan sekadar usaha, tapi ikhtiar,” ucap Y. Priyo Budiartanto, Direktur BUMDes Sukma, sambil memaparkan perjalanan unit usaha yang dikelolanya. Perjalanan itu tidak dimulai dari kandang ayam, melainkan dari hal-hal sederhana: car wash dan pengelolaan sampah—usaha kecil yang tumbuh dari kebutuhan warga.

Tahun 2025 menjadi titik penting. Melalui program ketahanan pangan, BUMDes Sukma menerima suntikan dana sebesar Rp333 juta. Pilihan usaha pun jatuh pada budidaya ayam petelur. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Sukoharjo dikenal sebagai salah satu wilayah pemasok telur ayam, produk yang sudah sangat akrab dengan masyarakat dan memiliki jejaring pasar yang relatif mapan.

“Di sini orang sudah paham ayam petelur. Pasarnya jelas, jaringannya ada. Tinggal bagaimana mengelolanya dengan sungguh-sungguh,” tutur Priyo.

Ayam-ayam di kandang itu belum bertelur. Namun, menurut perhitungan usaha, dalam waktu sekitar tiga bulan ke depan produksi telur akan berlangsung secara massal. Hitung-hitungan bisnisnya pun disampaikan apa adanya: BEP diperkirakan tercapai dalam tiga tahun. Tidak instan, tapi realistis.

Ikhtiar BUMDes Sukma ini mendapat perhatian dari Dinas PMK Kabupaten Sleman. Dalam sebuah kegiatan monitoring dan evaluasi, tim yang dipimpin Kasi PPM Siska Wulandari hadir langsung ke lokasi. Turut mendampingi TAPM Agung Margandhi dan Heniasih.

Alih-alih langsung membuka map administrasi, rombongan memilih menapaki unit-unit usaha terlebih dahulu. Mereka menyapa pengurus BUMDes, pamong kalurahan, pendamping desa, lalu berjalan menyusuri area peternakan merasakan langsung denyut usaha yang sedang tumbuh.

Baru setelah itu, satu per satu dokumen dibuka. Di sinilah wajah lain BUMDes terlihat: semangat besar yang masih perlu ditopang tata kelola yang lebih rapi. BUMDes Sukma tercatat belum berbadan hukum, belum memiliki NIB dan NPWP, serta pengelolaan keuangan yang masih sederhana.

Catatan pun diberikan. Sebagai lembaga usaha milik kalurahan, BUMDes dituntut untuk transparan dan akuntabel. Pengelolaan keuangan harus mengacu pada aturan dan Standar Akuntansi Indonesia (SAI) agar dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Namun suasana tidak pernah tegang. Di sela-sela diskusi, ulu-ulu Sukoharjo melontarkan seloroh yang mengundang senyum. Kalimat sederhana, tapi penuh makna: dorongan agar para pengurus tetap istiqomah, meski hingga kini masih berjuang tanpa gaji.

Di sanalah letak ruh BUMDes Sukma Sukoharjo. Di antara bau kandang, debu pakan, dan suara ayam, ada sekelompok orang yang bekerja bukan demi upah, melainkan demi keberdayaan desa. Dari cucian mobil, pengelolaan sampah, hingga telur ayam yang belum menetas, mereka sedang menyusun masa depan perlahan, tapi pasti.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 3.9 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Berita Terkait

Susu Diperas, Dahaga Dilepas: Cerita Kambing Gayamharjo
Di Balik Jalan Terjal Wukirharjo, Ketahanan Pangan Dirawat dengan Kesabaran
Bukan Sekadar Wisata, Boko Makmur Menjadi Nadi Ekonomi Bokoharjo
BUMNag Lubuak Bakilek Malam Koto Kaciak: Dari Air Bersih hingga Ketahanan Pangan dan Wisata Desa
Ajib Santoso dan Ikhtiar Pelan tapi Pasti Membangun BUMDes Tirta Jaya Nogotirto
Budidaya Terong Jepang Jadi Andalan, BUMKal Balecatur Perkuat Ekonomi Desa
Menjaga Amanah, Menumbuhkan Harapan. Jejak BUMDes Sumbersari Merawat Energi Desa dan Ketahanan Pangan
BUMNag Lumbung Pintar Duo Koto, Model Ketahanan Pangan Berbasis Kemitraan Warga
Berita ini 196 kali dibaca

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 04:45 WIB

Susu Diperas, Dahaga Dilepas: Cerita Kambing Gayamharjo

Rabu, 4 Februari 2026 - 22:36 WIB

Di Balik Jalan Terjal Wukirharjo, Ketahanan Pangan Dirawat dengan Kesabaran

Rabu, 4 Februari 2026 - 20:53 WIB

Bukan Sekadar Wisata, Boko Makmur Menjadi Nadi Ekonomi Bokoharjo

Senin, 2 Februari 2026 - 09:08 WIB

BUMNag Lubuak Bakilek Malam Koto Kaciak: Dari Air Bersih hingga Ketahanan Pangan dan Wisata Desa

Minggu, 1 Februari 2026 - 11:36 WIB

Ajib Santoso dan Ikhtiar Pelan tapi Pasti Membangun BUMDes Tirta Jaya Nogotirto

Berita Terbaru

Kabar BUMDes

Susu Diperas, Dahaga Dilepas: Cerita Kambing Gayamharjo

Kamis, 5 Feb 2026 - 04:45 WIB

Kabar BUMDes

Bukan Sekadar Wisata, Boko Makmur Menjadi Nadi Ekonomi Bokoharjo

Rabu, 4 Feb 2026 - 20:53 WIB